Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Diallo Menyala, Gajah Perkasa: Pantai Gading Libas Burkina Faso 3-0 dan Tantang Mesir di Perempat Final

 

SKWNEWS Pantai Gading melaju ke perempat final Piala Afrika dengan cara yang meyakinkan setelah menaklukkan Burkina Faso 3-0 di Marrakesh. Dalam laga yang memperlihatkan keseimbangan antara intensitas, disiplin, dan kecerdasan permainan, Amad Diallo tampil sebagai bintang. Winger Manchester United itu mencetak gol pembuka dan mengarsiteki gol kedua untuk Yan Diomande, sebelum pemain pengganti Bazoumana Toure melengkapi pesta di menit-menit akhir. Kemenangan ini bukan sekadar tiket ke delapan besar; ini juga menahbiskan Pantai Gading sebagai juara bertahan pertama sejak 2010 yang berhasil menembus perempat final, mengakhiri rentetan nasib buruk para kampiun sebelumnya.

Suasana malam yang dingin dan kering di kaki Pegunungan Atlas menjadi panggung bagi penegasan karakter sang juara bertahan. Sejak awal, ritme permainan dipegang Pantai Gading. Burkina Faso sebenarnya coba bermain agresif, namun justru bek mereka, Adamo Nagalo, sudah mengantongi kartu kuning pada menit kelima setelah melanggar Diallo. Dari tendangan bebas yang dihasilkan, Diallo masih belum menemukan sasarannya, tetapi itu sudah menjadi pertanda jelas bahwa sisi kanan serangan Pantai Gading akan menjadi sumber masalah bagi lawan sepanjang pertandingan. Penguasaan bola yang rapi di tengah, sirkulasi yang sabar, dan pergerakan tanpa bola yang terukur membuat Burkina Faso dipaksa mundur lebih dalam dari rencana awal.

Kapten Franck Kessie menjadi figur sentral dalam mengatur tempo. Ia beberapa kali terlibat dalam kombinasi segitiga yang membuka ruang di half-space, dan nyaris membuka skor saat tembakan placing-nya mengarah ke pojok atas gawang. Namun momen pemecah kebuntuan tiba pada menit ke-20, lahir dari keberanian individual Diallo. Menerima bola di area kanan, ia menusuk melewati beberapa adangan, menjaga bola tetap dekat di kaki, lalu melepaskan sepakan terukur yang mengecoh kiper Herve Koffi. Protes keras sempat muncul dari kubu Burkina Faso yang mengklaim ada pelanggaran Evann Guessand terhadap Nagalo dalam proses build-up. VAR meninjau insiden tersebut dan menguatkan keputusan wasit asal Sudan: gol sah. Keputusan itu mengubah momentum; Pantai Gading makin percaya diri, sementara Burkina Faso tersentak.

Kepercayaan diri itu berwujud menjadi gol kedua pada menit ke-32. Diallo kembali menjadi arsitek. Melihat ruang terbuka di sisi seberang, ia mengirim operan ke Yan Diomande yang baru berusia 19 tahun. Tanpa banyak sentuhan, Diomande mengeksekusi tembakan melengkung yang nyaris tanpa cela, mengarah ke sudut kiri gawang dan membuat Koffi terpaku. Gol ini tak hanya memperlebar jarak, tetapi juga memperlihatkan kedewasaan pengambilan keputusan dari lini serang Pantai Gading: tajam ketika harus langsung menusuk, dan sabar ketika situasi menuntut sirkulasi.

Burkina Faso, di tengah tekanan, tetap menyimpan ancaman. Dango Ouattara, penyerang Brentford, melakukan salah satu aksi paling berbahaya timnya ketika menusuk dari kanan dan melepaskan tembakan kencang yang berakhir menghantam tiang gawang. Kiper Yahia Fofana bergerak cepat membaca pantulan dan mengamankan bola kedua, sebuah intervensi yang menjaga arsitektur keunggulan dua gol hingga turun minum. Di sisi lain, keputusan taktis mulai diambil kubu Burkina: Nagalo ditarik keluar jelang jeda dan digantikan oleh gelandang pekerja Blati Toure, langkah yang mengindikasikan kebutuhan menambah kendali di lini tengah dan merapikan struktur transisi.

Babak kedua memperlihatkan perubahan nuansa. Burkina Faso menambah tenaga segar dengan memasukkan Georgi Minoungou saat jeda, lalu mengalihkan fokus ke penguasaan bola yang lebih berani, mencoba menyerang ruang di antara lini Pantai Gading. Upaya itu nyaris berbuah hasil pada menit ke-60, ketika Ouattara menyambar umpan silang rendah di tiang dekat. Fofana, sekali lagi, menunjukkan refleks brilian dengan menepis bola yang sudah mengarah ke gawang. Penyelaan ini menjadi penanda penting: meski Pantai Gading dominan dalam fase menyerang, mereka tetap terorganisasi dengan baik dan mampu bertahan di momen-momen kritis.

Dengan waktu semakin menipis, Burkina Faso memasukkan Bertrand Traore—penyerang Sunderland yang mencatat debut AFCON pada 2012 saat masih berusia 16 tahun—untuk menambah variasi dan pengalaman di lini depan. Kehadirannya membawa dampak psikologis bagi rekan setim, namun ruang yang mereka sisakan di belakang menjadi undangan bagi transisi cepat Pantai Gading. Dalam salah satu serangan balik, Diallo kembali menemukan celah di kotak penalti dan tinggal berhadapan dengan Koffi. Kali ini sang kiper menang dengan tepisan menggunakan kaki, menunda sementara kemungkinan brace bagi sang winger.

Namun pada akhirnya, kerapuhan struktur Burkina Faso di menit-menit akhir memberi jalan bagi penyelesaian yang klinis dari Pantai Gading. Bazoumana Toure, yang masuk sebagai pemain pengganti, menemukan jalannya dari tengah lapangan, berlari dari wilayah sendiri pada menit ke-87, memotong garis pertahanan yang mencoba naik, lalu menceploskan bola melewati Koffi dengan ketenangan yang mencerminkan kepercayaan diri. Itu adalah gol keduanya dalam dua pertandingan beruntun, sebuah catatan yang memperkaya opsi ofensif Pantai Gading jelang partai akbar berikutnya.

Skor 3-0 menutup malam yang ideal bagi sang juara bertahan. Mereka menunjukkan paket lengkap: lini belakang yang fokus di saat-saat genting, lini tengah yang mengatur tempo tanpa panik, serta lini depan yang mampu mengonversi peluang menjadi gol pada momen-momen penentu. Diallo layak disebut sebagai man of the match berkat kontribusinya pada dua gol pertama, tetapi kemenangan ini juga merupakan hasil kerja kolektif. Diomande tampil dewasa di usia belia, Fofana menentukan lewat penyelamatan krusial, sementara Kessie menjaga keseimbangan ritme dan mental tim.

Dalam konteks sejarah turnamen, hasil ini memiliki bobot simbolis. Sejak Mesir berhasil mempertahankan gelar di Angola 16 tahun lalu, status juara bertahan lebih sering menjadi beban daripada berkah. Tujuh kampiun berikutnya gagal mencapai perempat final: ada yang tumbang di babak 16 besar seperti Kamerun dan Senegal, ada yang tersingkir lebih awal di fase grup seperti Zambia, Pantai Gading, dan Aljazair, bahkan ada pula yang gagal lolos ke putaran final seperti Mesir dan Nigeria. Pantai Gading memutus rantai itu, menggabungkan kualitas individu dan rencana permainan yang jelas untuk tetap berada di jalur pertahanan gelar.

Perhatian kini beralih ke Agadir, kota pesisir Maroko, tempat Pantai Gading akan berduel dengan Mesir pada hari Sabtu demi tiket semifinal. Laga ini menjanjikan tensi tinggi: tujuh kali juara benua melawan pemegang trofi saat ini. Pertarungan akan ditentukan oleh detail—kedisiplinan dalam transisi, ketenangan mengeksekusi peluang, serta kemampuan menguasai momen di pertandingan yang kemungkinan berjalan ketat. Kreativitas dan kecepatan Diallo akan berhadapan dengan organisasi pertahanan dan pengalaman Mesir, sementara keseimbangan lini tengah menjadi kunci untuk mengendalikan arah permainan dari menit pertama hingga terakhir.

 

Bagi Burkina Faso, perjalanan berakhir dengan sejumlah pelajaran berharga. Mereka memiliki daya ledak di sisi sayap melalui Ouattara dan stok pengalaman lewat figur seperti Bertrand Traore, namun konsistensi dalam transisi defensif dan efisiensi penyelesaian peluang jelas menjadi pekerjaan rumah. Di kancah benua yang semakin kompetitif, margin kesalahan begitu tipis—dan malam di Marrakesh menjadi bukti betapa berbahayanya lengah beberapa detik saja.

Bagi Pantai Gading, kemenangan ini bukan hanya tiga gol di papan skor, tetapi sebuah pernyataan tegas bahwa status juara bukan sekadar label, melainkan standar kinerja yang siap mereka pertahankan. Dengan kepercayaan diri yang terbangun dan kedalaman skuad yang mulai terasa, duel melawan Mesir akan menjadi ujian berikutnya untuk membuktikan bahwa jalan menuju tahta sekali lagi tetap berada dalam jangkauan. Mesir menanti di Agadir, dan Afrika bersiap menyaksikan panggung besar berikutnya.

HOT NEWS

TRENDING

Panggung Penebusan di Camp Nou: Barcelona Libas Levante 3-0, Tahta La Liga…

Mac Allister Selamatkan Liverpool, Forest Kian Terhimpit di Tepi Zona Degradasi

FIFA Siapkan ‘Hukum Prestianni’: Aturan Anti-Rasisme yang Melarang Pemain Menutupi Mulut Saat…

Brace Patrik Schick Bungkam Piraeus: Leverkusen Curi Kemenangan Bersejarah 2-0 atas Olympiacos

Laga Playoff Liga Champions : Laga Penuh Drama, Atletico Dipaksa Bermain Imbang…

Scroll to Top