Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Era Thomas Frank Berakhir: Delapan Bulan Tanpa Arah, Spurs Mencari Jalan Keluar dari Ancaman Degradasi

 

SKWNEWS Tottenham Hotspur mengakhiri masa jabatan Thomas Frank setelah kurang dari delapan bulan yang penuh tekanan, menyusul kekalahan 2-1 di kandang dari Newcastle yang membuat tim London utara itu hanya berjarak lima poin dari zona degradasi Liga Premier. Keputusan ini lahir di tengah laju yang makin merosot: Spurs duduk di peringkat ke-16, tanpa kemenangan dalam delapan laga liga terakhir—rekor terburuk mereka sejak Oktober 2008—hanya dua kemenangan dari 17 pertandingan terbaru, dan cuma mengumpulkan 12 poin dalam rentang waktu tersebut. Bagi sebuah klub yang biasa menatap papan atas dan berlabel anggota “Enam Besar”, grafik menurun ini berubah dari sekadar alarm menjadi sirene bahaya.

Frank, 52 tahun, datang pada Juni 2025 menggantikan Ange Postecoglou, yang dipecat tak lama—hanya lebih dari dua pekan—setelah mengantar Spurs mengangkat trofi Liga Europa. Penunjukannya kala itu disambut manajemen dengan pujian tinggi, menyebut mantan bos Brentford tersebut sebagai sosok “progresif dan inovatif.” Klub memberinya kontrak tiga tahun dan menyatakan tekad untuk menyediakan waktu dan dukungan demi membangun proyek jangka panjang. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Dalam pernyataan resmi pada Rabu, Tottenham menegaskan bahwa “hasil dan performa” memaksa dewan mengambil keputusan perubahan pada posisi pelatih kepala saat ini, sembari mengucapkan terima kasih atas “komitmen yang tak tergoyahkan” dan mendoakan kesuksesan Frank di masa depan.

Paradoks musim Spurs di bawah Frank kentara. Di Eropa, ia membawa tim melaju otomatis ke babak 16 besar Liga Champions melalui fase grup—sebuah pencapaian yang semestinya menjadi landasan kepercayaan diri. Tetapi di kompetisi domestik, catatan tujuh kemenangan, delapan imbang, dan 11 kekalahan mengguratkan wajah yang muram. Spurs juga tersingkir dari kedua kompetisi piala domestik, menambah tekanan kepada pelatih yang gaya mainnya dinilai terlalu konservatif oleh sebagian suporter. Kontras dengan era Postecoglou yang, meski pincang di liga, menawarkan sepak bola menyerang yang menghibur, rencana permainan Frank dipersepsikan suram dan reaktif, memperkeruh suasana di tribun.

Kekalahan dari Newcastle, yang diakhiri dengan seruan “dipecat besok pagi” dari pendukung tuan rumah, menjadi klimaks dari frustrasi yang menumpuk. Ironisnya, Frank masih menyuarakan keyakinan akan bertahan usai berdiskusi dengan manajemen pada awal pekan. “Saya memahami frustrasi dan hal termudah adalah menyalahkan saya. Sayangnya, itu bagian dari pekerjaan,” ujarnya setelah laga, seraya menegaskan komitmennya untuk “bekerja siang dan malam” demi membalikkan keadaan. Ia juga menekankan bahwa beban perbaikan bukan milik satu orang. Di sisi lain, ia beberapa kali menyinggung kendala daftar cedera panjang yang menggerus kreativitas tim—mulai dari James Maddison, Dejan Kulusevski, hingga Mohammed Kudus—yang memaksa Spurs bermain tanpa banyak opsi pembeda di sepertiga akhir.

Jejak rekam Frank di Brentford—tujuh tahun membangun, promosi ke Premier League pada 2021, lalu bertahan di kasta teratas dengan sumber daya terbatas—adalah alasan kuat mengapa Tottenham semula percaya pada visinya. Namun konteks Spurs berbeda: ekspektasi lebih tinggi, sorotan lebih terang, dan toleransi terhadap fase transisi lebih sempit. Klub ini baru saja merasakan kebanggaan mengangkat trofi besar pertama dalam 17 tahun lewat keberhasilan di Bilbao, bahkan sempat memastikan tiket Liga Champions kendati finis ke-17 di liga musim lalu. Tatkala grafik performa musim ini kembali mengarah ke bawah dan jarak ke jurang degradasi mengecil, dewan memilih tombol reset daripada bertaruh lebih lama pada perbaikan yang tak kunjung terlihat.

Waktu keputusan ini juga strategis. Ada jeda 12 hari sebelum Spurs menjamu pemuncak klasemen Arsenal dalam derbi London utara pada 22 Februari—laga yang secara emosional dan matematis bisa menentukan arah sisa musim. Jeda ini menghadirkan celah bagi klub untuk menata ulang ruang ganti, mengembalikan energi, dan merumuskan pendekatan yang lebih tegas terhadap fase krusial kompetisi. Tanpa kemenangan beruntun yang bisa mengangkat kepercayaan diri, Spurs perlu memulihkan hal-hal mendasar: intensitas pressing, struktur transisi, dan terutama kejelasan rencana ketika menguasai bola—elemen-elemen yang sering menguap saat tekanan pertandingan memuncak.

Di balik keputusan ini, ada narasi yang lebih besar soal identitas. Tottenham ingin dikenal bukan hanya karena kapasitas bertanding di Eropa atau status keanggotaan “Enam Besar,” melainkan sebagai tim yang konsisten, berani, dan punya fondasi permainan jelas. Musim ini menyingkap betapa rapuhnya keseimbangan itu ketika hasil dan performa tidak seiring. Bagi para pemain, perubahan pelatih berarti ujian ulang terhadap peran, tanggung jawab, dan standar—sekaligus kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen mereka menghadapi fase yang menuntut. Bagi pendukung, ini adalah harapan akan hadirnya arah yang lebih terang setelah bulan-bulan yang melelahkan secara emosional.

Tottenham terakhir kali menjadi juara Inggris pada musim 1960/61, era Divisi Pertama lama ketika mereka juga meraih ‘Double’ bersama Piala FA. Jarak sejarah yang panjang itu kerap membebani setiap proyek pelatih kepala yang datang dan pergi. Kini, Frank menjadi manajer ketujuh yang berpisah dengan klub Premier League musim ini, sebuah statistik yang menggambarkan kerasnya kompetisi sekaligus tipisnya margin kesabaran ketika ambisi tidak bertemu kenyataan. Spurs harus bergerak cepat mencari solusi—bukan hanya soal siapa yang berdiri di tepi lapangan, tetapi juga bagaimana mengembalikan kejelasan visi yang bisa diterjemahkan menjadi poin, performa, dan ketenangan di klasemen. Di sisa musim yang masih cukup untuk menyelamatkan banyak hal, Tottenham dihadapkan pada momen pilihan: merapatkan barisan, menyederhanakan rencana, dan memastikan satu hal—bahwa ancaman degradasi tetap menjadi bayang-bayang, bukan takdir.

HOT NEWS

TRENDING

PSG Hancurkan Liverpool dan Raih Keunggulan Besar Menuju Anfield

Havertz dan Raya Jadi Pahlawan: Arsenal Curi Kemenangan Dramatis di Lisbon demi…

Loyalitas Baja di Old Trafford: Harry Maguire Perpanjang Kontrak, Tegaskan Keyakinannya pada…

Aaron Ramsey Resmi Gantung Sepatu, Menutup Karier Penuh Kenangan dan Kebanggaan

Bantai Port Vale 7-0, Chelsea Coba Pulihkan Diri dari Mimpi Buruk yang…

Scroll to Top