Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

FIFA Siapkan ‘Hukum Prestianni’: Aturan Anti-Rasisme yang Melarang Pemain Menutupi Mulut Saat Berdebat di Lapangan

 

 SKWNEWS Badan sepak bola dunia, FIFA, dikabarkan tengah memfinalisasi sebuah proposal kebijakan baru untuk memerangi rasisme dan pelecehan selama pertandingan. Rencana aturan yang disebut “Hukum Prestianni” itu mengemuka setelah rangkaian insiden yang kembali menyorot urgensi perlindungan terhadap pemain dari serangan verbal di lapangan, sekaligus menuntut akuntabilitas yang lebih besar atas perilaku para pesepak bola profesional di momen panas pertandingan. Pembaruan pada 21 Februari 2026 menyebutkan bahwa langkah ini diposisikan sebagai bagian dari sikap global FIFA melawan rasisme, dengan fokus pada tindakan pencegahan, kejelasan bukti, dan konsistensi penegakan.

Inti dari “Hukum Prestianni” adalah pemberian sanksi kepada pemain yang secara sengaja menutupi mulut mereka saat berdebat dengan lawan, tanpa bergantung pada apakah ucapan tersebut terekam kamera atau dapat dipahami melalui pembacaan bibir. Secara praktis, aturan ini ingin menutup celah yang selama ini membuat proses pembuktian dalam kasus pelecehan verbal—khususnya rasisme—sering buntu, karena pelaku berlindung di balik kebiasaan menutupi mulut untuk menghindari sorotan publik dan teknologi siaran. Dengan melarang gestur itu dalam konteks konfrontasi, FIFA bermaksud mengirim pesan kuat bahwa transparansi komunikasi di lapangan adalah bagian dari etika profesional dan keselamatan psikologis pemain.

Usulan ini, menurut laporan Sky Sports, dipicu oleh peristiwa dalam leg pertama babak playoff Liga Champions UEFA 2025–26 di Estadio da Luz. Dalam laga tersebut, Vinicius Junior menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, memanggilnya “monyet” setelah sang penyerang Brasil mencetak satu-satunya gol pertandingan dan merayakannya di dekat bendera sudut Benfica. Momen tegang itu sempat melibatkan sejumlah pemain tuan rumah yang tidak senang dengan selebrasi Vinicius. Di tengah konfrontasi, Prestianni terlihat menutupi mulutnya dengan baju ketika berbicara. Ia membantah keras melakukan pelecehan rasial. Tuduhan ini, yang diarahkan kepada seorang pemain berkulit hitam yang berulang kali menjadi target hinaan rasis di Spanyol, kembali menggemakan urgensi perlindungan yang nyata dan mekanisme penegakan yang lebih tegas.

Di balik layar, pengajuan “Hukum Prestianni” datang dari Panel Suara Pemain FIFA, kelompok penasihat yang terdiri dari 16 mantan pesepak bola—pria dan wanita—yang merepresentasikan beragam latar etnis, kewarganegaraan, serta keenam konfederasi. Mandat panel ini adalah memantau dan memberi nasihat atas implementasi inisiatif anti-rasisme FIFA, memastikan kebijakan tidak berhenti pada slogan, melainkan memiliki dampak nyata melalui perangkat regulasi, edukasi, dan penegakan disiplin. Penempatan isu “menutupi mulut saat berdebat” dalam daftar prioritas memperlihatkan perhatian khusus terhadap dimensi pembuktian di era lip-reading, VAR, dan siaran resolusi tinggi, yang selama ini justru kerap disiasati alih-alih dimanfaatkan untuk melindungi integritas pertandingan.

Respons klub juga mencerminkan betapa sensitifnya perkara ini. Real Madrid menyatakan telah mengirimkan kepada UEFA “seluruh bukti yang tersedia” terkait dugaan hinaan rasial terhadap Vinicius Junior, serta menegaskan kerja sama aktif dengan investigasi yang dibuka badan Eropa tersebut. Di sisi lain, Prestianni menolak tuduhan itu, menyatakan bahwa ia “tidak pernah bersikap rasis kepada siapa pun,” seraya mengungkap penyesalan atas ancaman yang ia terima dari para pemain Real Madrid. Benfica secara terbuka mendukung pernyataan sang pemain, bahkan menyebut para pemain Madrid yang mengaku mendengar hinaan berada terlalu jauh untuk memastikan kebenaran ucapannya. Persilangan klaim dan bantahan ini menyorot problem klasik: ketika bukti audio tak tersedia dan pembacaan bibir tidak dimungkinkan, bagaimana regulator menimbang kebenaran secara adil dan cepat?

Jika kelak disahkan, “Hukum Prestianni” berpotensi menjadi penanda perubahan kultur komunikasi di lapangan. Selama bertahun-tahun, menutupi mulut saat berbicara—baik di momen rileks maupun tegang—telah menjadi kebiasaan luas di kalangan pemain elit untuk menghindari interpretasi media atau bocornya instruksi taktis. Aturan baru ini tidak menyasar seluruh kebiasaan itu secara membabi buta, melainkan secara spesifik menekan praktik menutupi mulut ketika berdebat dengan lawan, konteks yang paling rawan terjadi pelecehan verbal. Tujuannya bukan mengintervensi strategi atau privasi sah, melainkan mencegah tindakan yang secara sengaja mengaburkan potensi bukti saat terjadi perselisihan, sehingga proses disipliner memiliki pijakan lebih kuat.

Meski demikian, masih ada serangkaian detail implementasi yang menunggu kejelasan dalam naskah final. Perumusan definisi “berdebat dengan lawan” harus presisi agar tidak tumpang tindih dengan komunikasi normal antarpemain. Batasan “sengaja” perlu diterangkan sehingga tidak menghukum tindakan refleks atau alasan sah lain—misalnya kondisi cuaca ekstrem, luka di mulut, atau penggunaan pelindung—yang tidak berkaitan dengan perselisihan. Mekanisme penilaian di tempat kejadian, peran wasit keempat dan VAR, serta jenis sanksi disipliner yang proporsional juga mesti disusun agar konsisten di berbagai kompetisi dan yurisdiksi. Sama pentingnya, prosedur banding harus transparan demi menjaga rasa keadilan, terutama pada perkara yang menyangkut reputasi personal dan isu sensitif seperti rasisme.

Dampak kebijakan ini tidak hanya berhenti pada ranah hukuman. Ia dapat menjadi pemicu penguatan ekosistem anti-rasisme yang lebih luas, mulai dari edukasi pra-musim, pelatihan bahasa dan etika komunikasi lintas budaya, hingga protokol pelaporan yang aman bagi korban dan saksi. Dalam kerangka yang lebih besar, “Hukum Prestianni” juga berpotensi melengkapi protokol bertahap penanganan insiden rasisme di pertandingan—mulai dari peringatan, penghentian sementara, sampai kemungkinan penghentian total—dengan memberikan alat pencegahan di hulu yang menekan peluang munculnya ujaran kebencian sejak fase awal konfrontasi.

Sebagaimana kebijakan publik lain, resistensi dan pertanyaan wajar mungkin muncul. Ada pihak yang bisa saja menilai larangan ini berlebihan atau berisiko menyerempet ruang privat komunikasi pemain. Namun argumen tandingannya menekankan bahwa lapangan pertandingan adalah ruang kerja yang diatur norma profesional dan keselamatan, tempat kebebasan berekspresi dibatasi oleh tanggung jawab untuk tidak melukai—baik secara fisik maupun psikologis—pihak lain. Dengan menargetkan perilaku yang spesifik terkait perselisihan, aturan ini mencoba menempatkan pagar etika pada tempat yang paling rawan tanpa membatasi komunikasi yang sah dalam konteks taktis atau kesehatan.

Akhirnya, usulan “Hukum Prestianni” mengirimkan sinyal yang sulit disalahartikan: sepak bola tidak bisa mentoleransi rasisme dan pelecehan dalam bentuk apa pun, dan tidak akan membiarkan celah teknis menghalangi pencarian kebenaran. Perkara di Estadio da Luz—dengan klaim, bantahan, dan investigasi yang tengah berjalan—mungkin hanya salah satu pemantik. Namun dari percikan itulah FIFA mencoba menyalakan obor kebijakan yang lebih tegas, agar kejelasan, akuntabilitas, dan keamanan psikologis menjadi standar yang bukan saja diucapkan, melainkan juga dilindungi oleh aturan yang jelas serta ditegakkan secara konsisten. Jika proses legislasi ini berujung pada implementasi yang cermat dan adil, “Hukum Prestianni” bisa menjadi langkah penting menuju ekosistem sepak bola yang lebih manusiawi, aman, dan bertanggung jawab.

HOT NEWS

TRENDING

Panggung Penebusan di Camp Nou: Barcelona Libas Levante 3-0, Tahta La Liga…

Mac Allister Selamatkan Liverpool, Forest Kian Terhimpit di Tepi Zona Degradasi

FIFA Siapkan ‘Hukum Prestianni’: Aturan Anti-Rasisme yang Melarang Pemain Menutupi Mulut Saat…

Brace Patrik Schick Bungkam Piraeus: Leverkusen Curi Kemenangan Bersejarah 2-0 atas Olympiacos

Laga Playoff Liga Champions : Laga Penuh Drama, Atletico Dipaksa Bermain Imbang…

Scroll to Top