Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Era Toppmoeller Berakhir: Frankfurt Pecat Pelatih Setelah Tren Buruk, Duo Schmitt–Meier Ambil Alih Sementara

 

SKWNEWS Eintracht Frankfurt mengetuk rem darurat pada musim yang kian terjal dengan memecat Dino Toppmoeller pada Minggu, sebuah keputusan yang datang setelah rangkaian hasil mengecewakan menyeret Die Adler ke peringkat ketujuh Bundesliga dan membuat peluang lolos ke babak play-off Liga Champions berada di ujung tanduk. Klub mengumumkan bahwa pelatih junior Dennis Schmitt dan mantan penyerang yang kini melatih kelompok usia, Alexander Meier, akan memegang kendali tim utama untuk sementara, seraya menegaskan melalui pernyataan resmi bahwa langkah ini “merupakan hasil analisis olahraga dan struktural yang komprehensif.”

Pemutusan kerja sama ini menutup babak yang pernah tampak menjanjikan. Toppmoeller, yang mengambil alih dari Oliver Glasner pada 2023, membawa Frankfurt finis keenam di musim pertamanya dan melonjak ke posisi ketiga musim lalu—capaian liga terbaik klub dalam tiga dekade. Namun, laju musim ini tak lagi menjalar mulus. Sejak musim panas ketika klub melepas striker andalan Hugo Ekitike ke Liverpool, performa Frankfurt merosot tajam: hanya satu kemenangan dalam sembilan pertandingan terakhir di semua ajang, posisi ketujuh Bundesliga dengan jarak lima poin dari empat besar, dan hanya satu kemenangan dari enam laga di fase liga Liga Champions yang menempatkan mereka di peringkat ke-30. Dalam format baru kompetisi Eropa itu, ranking setinggi itu membuat rute menuju babak play-off semakin sempit.

Sumber persoalan paling telanjang terlihat di lini belakang. Hingga pekan ini, tidak ada tim Bundesliga yang kebobolan lebih banyak dari Frankfurt—39 gol—angka yang menggambarkan pertahanan yang goyah, rapuh di momen transisi, dan terlalu sering kalah dalam duel area berbahaya. Direktur olahraga Markus Kroesche tak menutup-nutupi kekecewaannya. “Karena penurunan performa baru-baru ini, kami membutuhkan dorongan olahraga baru,” tegasnya, sebelum menambahkan kritik pedas seusai hasil imbang 3-3 yang menyakitkan di markas Werder Bremen pada Jumat. “Kesalahan yang sama selalu terjadi. Kita tidak bisa terus seperti ini. Kami telah mengalami masalah yang sama selama 17 atau 18 pertandingan sekarang. Kami kebobolan gol yang sangat mudah, kami terlalu panik dalam penguasaan bola – dan kami tidak memiliki struktur.”

Kata-kata Kroesche mencerminkan gambaran yang terlihat di lapangan. Frankfurt kerap memulai laga dengan intensitas yang menjanjikan namun meredup saat tekanan balik lawan meningkat. Garis pertahanan yang terlalu mudah terbelah, celah antarlini yang melebar, serta kesulitan keluar dari pressing membuat mereka rentan kebobolan dalam cluster waktu pendek—gol-gol yang datang beruntun, mematahkan ritme, dan menggerogoti kepercayaan diri. Ketika jumlah kebobolan meningkat, beban kreatif dan produktivitas di lini depan ikut menegang. Tanpa Ekitike, efektivitas di kotak penalti lawan tidak selalu konsisten, sementara setiap kesalahan kecil di belakang hampir selalu bernilai mahal.

Bagi Toppmoeller, keputusan ini datang dengan pahit namun ia menerimanya. Ia menyampaikan bahwa dirinya “sangat ingin terus bekerja dengan tim” tetapi menghormati arah klub, seraya berharap Frankfurt “lebih tenang dan lebih sukses di masa mendatang.” Kalimat itu menyiratkan paradoks musim ini: kualitas inti skuad tidak menghilang, tetapi kestabilan yang menjadi fondasi pencapaian tahun lalu tak lagi hadir setiap pekan. Di Bundesliga yang ketat, margin kesalahan yang menipis berubah menjadi jurang hasil.

Penunjukan Dennis Schmitt dan Alexander Meier sebagai juru taktik sementara menggambarkan pilihan pragmatis: merapatkan barisan dengan figur-figur yang memahami kultur klub dan dinamika ruang ganti. Schmitt, yang sehari-hari mengasuh kelompok usia, diharapkan memberi kejelasan ide dasar permainan dan perincian latihan yang mengembalikan struktur tanpa bola. Meier, ikon klub yang mengetahui denyut stadion dan standar yang diharapkan fans, bisa menjadi jembatan emosional sekaligus kompas sederhana di sepertiga akhir—menajamkan keputusan di kotak, menuntun penyerang memaksimalkan situasi set-piece, dan mengurangi ketergantungan pada momen individual yang sukar diulang.

Walau demikian, tantangan jangka pendek tetap berat. Mengurangi kebobolan berarti merapikan jarak antarlini, menata kembali koordinasi bek tengah–gelandang jangkar, dan memperbaiki pengambilan keputusan dalam progresi bola agar kehilangan penguasaan tidak terjadi di area rawan. Di sisi lain, efisiensi di depan gawang perlu kembali ke level yang membuat Frankfurt mampu memenangi pertandingan ketat musim lalu, ketika satu peluang bersih saja cukup untuk mengunci tiga poin. Mengubah kebiasaan buruk dalam hitungan pekan jarang mudah, tetapi stabilitas sederhana—clean sheet, kemenangan tipis—bisa menjadi katalis psikologis yang dibutuhkan.

Klub belum mengumumkan kandidat pengganti permanen maupun tenggat waktu penunjukan pelatih baru. Untuk saat ini, prioritas diletakkan pada penahanan kerusakan di liga dan menjaga asa Eropa tetap bernyala dalam format yang menuntut konsistensi dan organisasi. Dengan jadwal yang terus bergulir dan papan klasemen yang padat, setiap poin akan terasa berlipat nilai. Di luar ruang ganti, tekanan juga datang dari tribun: basis suporter yang terbiasa menyaksikan Frankfurt berkompetisi di panggung besar menginginkan respons cepat—bukan sekadar kata-kata, melainkan perubahan yang terlihat di lapangan.

Pada akhirnya, pemecatan Toppmoeller adalah sinyal kuat bahwa Frankfurt memilih bertindak sebelum musim betul-betul meluncur ke arah yang tidak diinginkan. Rekam jejaknya yang membawa klub melampaui ekspektasi tak bisa dihapus, tetapi sepak bola elit bergerak dengan ritme hasil. Jika Schmitt dan Meier dapat segera mematri kembali disiplin pertahanan, memulihkan ketenangan dalam penguasaan, dan mengembalikan rasa percaya diri kolektif, Eintracht masih memiliki waktu untuk membalikkan narasi. Dalam kompetisi yang ditentukan oleh detail kecil, kestabilan sederhana bisa menjadi batu loncatan menuju kebangkitan yang lebih besar.

HOT NEWS

TRENDING

Panggung Penebusan di Camp Nou: Barcelona Libas Levante 3-0, Tahta La Liga…

Mac Allister Selamatkan Liverpool, Forest Kian Terhimpit di Tepi Zona Degradasi

FIFA Siapkan ‘Hukum Prestianni’: Aturan Anti-Rasisme yang Melarang Pemain Menutupi Mulut Saat…

Brace Patrik Schick Bungkam Piraeus: Leverkusen Curi Kemenangan Bersejarah 2-0 atas Olympiacos

Laga Playoff Liga Champions : Laga Penuh Drama, Atletico Dipaksa Bermain Imbang…

Scroll to Top