Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Emery Meledak Usai Anderson Lolos dari Kartu Merah, Aston Villa Tersungkur di Kandang Forest

SKWNEWS – Kemarahan Unai Emery meledak di ruang konferensi pers City Ground pada Kamis malam, 1 Mei 2026. Manajer Aston Villa itu tidak kuasa menahan amarah setelah timnya kalah 1-0 dari Nottingham Forest di leg pertama semifinal Liga Europa, dan ia meyakini bahwa jalannya pertandingan seharusnya berubah drastis andai Video Assistant Referee (VAR) bertindak lebih tegas terhadap gelandang Forest, Elliot Anderson.

Satu-satunya gol yang menentukan nasib Villa malam itu lahir dari titik putih di babak kedua. Chris Wood yang dingin dan tak kenal ampun menjebol jala Tim Bertrand-Rangnick setelah Lucas Digne melakukan handball yang dianggap wasit sebagai pelanggaran penalti — sebuah keputusan yang memang sulit dibantah. Namun bagi Emery, kekalahan tipis itu terasa jauh lebih pahit bukan karena gol Wood, melainkan karena sebuah insiden di babak pertama yang ia rasa diabaikan begitu saja oleh para petugas pertandingan.

Anderson, bintang muda Forest yang tampil enerjik sepanjang malam, dibebaskan dari hukuman kartu merah usai melakukan tekel keras terhadap Ollie Watkins. Emery menyaksikan ulangan tayangan tersebut dan ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baginya, insiden itu bukan sekadar pelanggaran biasa — itu adalah tindakan yang berpotensi mengakhiri karier seorang pemain di atas lapangan.

“VAR sangat, sangat buruk. Itu jelas kartu merah, saya tidak mengerti mengapa VAR tidak memberikan kartu merah kepada wasit karena itu sangat jelas. Ini kesalahan besar. VAR bertanggung jawab,” ujar Emery dengan nada yang jarang ia perlihatkan kepada publik.

Manajer berkebangsaan Spanyol itu kemudian membedah kinerjanya secara terpisah antara wasit di lapangan dan tim VAR. Kepada wasit utama, ia justru memberikan pujian — sesuatu yang terasa kontras dengan kobaran kemarahannya terhadap sistem teknologi video tersebut.

“Wasitnya, fantastis, pekerjaan yang fantastis, 10 dari 10, saya menghargai bagaimana dia mengelola pertandingan selama 90 menit,” kata Emery. “Tapi saya menontonnya kembali. Wow. Luar biasa. Dia bisa saja patah pergelangan kakinya. VAR, di mana Anda? Itu tanggung jawab Anda, kami adalah profesional. Itu sangat jelas bagi semua orang. Dia bisa saja patah pergelangan kakinya. Ini tidak adil.”

Meski amarah masih membara, Emery tidak tenggelam dalam ratapan. Ia cepat mengingatkan dirinya sendiri — dan publik — bahwa laga semifinal ini belum usai. Villa, yang terakhir kali tampil di final Eropa pada 1982, masih memiliki satu kesempatan untuk membalikkan keadaan ketika leg kedua digelar di hadapan pendukung sendiri di Villa Park pada 7 Mei mendatang.

“Setelah gol mereka, hal terpenting adalah tidak kehilangan kendali dan tetap menjalankan rencana permainan kami,” tegasnya. “Pertandingan belum selesai, akan berlanjut minggu depan. Kita harus bangkit kembali.”

Di kubu seberang, suasananya jauh berbeda. Vitor Pereira, manajer keempat Forest dalam satu musim yang penuh gejolak, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia memuji semangat juang kolektif para pemainnya yang tampil tak kenal lelah di hadapan ribuan pendukung yang memenuhi City Ground dengan nyanyian tanpa henti.

“Kami mengganti pemain tetapi tetap mempertahankan semangat. Mentalitas untuk mencoba memenangkan pertandingan. Para pendukung, luar biasa, mereka sangat membantu kami. Lain kali kita akan menghadapi pertempuran besar,” kata Pereira.

Kemenangan ini bukan sembarang kemenangan bagi Forest. Klub berjuluk The Reds itu kini melangkah ke semifinal Eropa pertama mereka sejak legenda Brian Clough membawa mereka ke empat besar Piala UEFA pada musim 1983-84 — lebih dari empat dekade yang silam. Sebelumnya, Forest pernah dua kali mengangkat trofi Piala Eropa di bawah asuhan Clough, yakni pada 1979 dan 1980, dan kini mereka selangkah lagi menuju final kontinental pertama mereka sejak era keemasan tersebut.

Bagi Pereira, melatih klub dengan sejarah sebesar itu adalah sebuah kehormatan yang ia rasakan melampaui sekadar pekerjaan profesional. “Bagi saya, ini suatu kehormatan untuk melatih klub ini, untuk mencoba membantu para pemain ini, untuk melihat senyum di wajah para pendukung ini. Menjadi bagian dari keluarga Nottingham dengan seorang manajer yang akan selalu dikenang oleh semua orang. Saya sangat bangga dengan para pemain saya,” ungkapnya dengan penuh perasaan.

Dari sisi taktis, Pereira mengakui bahwa ia telah mempelajari kelemahan Villa secara mendalam — sebuah pelajaran berharga yang ia petik setelah Forest hanya mampu meraih satu poin dari dua pertemuan Liga Premier dengan tim Emery musim ini. Malam ini, ia menerapkan formula yang tepat: menekan tinggi saat memungkinkan, namun segera membentuk blok pertahanan yang solid ketika Villa melancarkan serangan balik yang ia akui sangat berbahaya.

“Saya bangga kami bermain dengan cara kami sendiri, menekan tinggi tetapi jika mereka menyerang maka atur ulang tim dalam satu blok. Secara taktik, kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan,” papar Pereira. “Transisi Villa sangat berbahaya, ketika mereka menyerang lini pertahanan kami, itu menjadi masalah besar.”

Kini, panggung berpindah ke Birmingham. Villa membutuhkan kemenangan untuk membalikkan agregat, sementara Forest cukup bermain imbang untuk melaju ke final. Satu hal yang pasti: leg kedua di Villa Park, 7 Mei 2026, menjanjikan drama yang tidak kalah sengit — dan Emery, yang amarahnya belum sepenuhnya padam, tentu sudah menyiapkan jawabannya.

HOT NEWS

TRENDING

Skwslot : Menunggu 28 Tahun, Skotlandia Akhirnya Tiba — dan Kini Mereka…

Skwslot : Skandal Mata-mata di Lapangan Latihan Southampton Dicoret, Middlesbrough Rebut Tiket…

Skwslot : Dua Puluh Dua Tahun Menanti Berakhir Sudah: Arsenal Akhirnya Berdiri…

Arsenal Selamat dari Gol Kontroversial di Ujung Laga, Lima Poin dari Puncak…

Sebelum Pamit, Glasner Ingin Membawa Palace ke Puncak Eropa Lebih Dulu

Scroll to Top