Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Haaland Raih Sepatu Emas Ketiga, Tapi Gelar Juara Justru Lepas ke Tangan Arsenal

 

SKWNEWS Erling Haaland kembali menorehkan namanya dalam sejarah Liga Premier Inggris. Pada Minggu (25/05/2026), striker andalan Manchester City itu secara resmi dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak musim ini setelah mengemas 27 gol dari 35 penampilan di ajang kompetisi paling bergengsi di Inggris tersebut. Penghargaan Sepatu Emas Liga Premier ini merupakan yang ketiga bagi Haaland dalam empat musim terakhir bersama City — sebuah pencapaian luar biasa yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu penyerang paling mematikan dalam sejarah sepak bola modern.

Namun, ironi besar mewarnai pengumuman penghargaan tersebut. Haaland tidak tampil sedikit pun dalam pertandingan terakhir Manchester City musim ini, sebuah laga yang secara bersamaan menjadi momen perpisahan emosional Pep Guardiola di Etihad Stadium. City takluk 2-1 dari Aston Villa dalam laga kandang itu, sementara ribuan suporter yang memadati stadion meluapkan penghormatan mereka kepada sang manajer yang telah memimpin klub selama satu dekade penuh trofi dan kejayaan. Haaland, yang tidak masuk dalam daftar skuad untuk pertandingan tersebut, hanya bisa menyaksikan momen bersejarah itu dari kejauhan.

Ketidakhadiran Haaland di lapangan pada hari itu boleh jadi menjadi metafora bagi musim City secara keseluruhan — penuh kilatan brilliansi, namun juga dihantui oleh ketidakkonsistenan di momen-momen paling krusial. Bintang asal Norwegia itu memulai musim dengan tempo yang nyaris tak tertandingi. Dalam 17 pertandingan pertamanya di liga, ia sudah mencatatkan 19 gol — rata-rata lebih dari satu gol per laga. Angka itu langsung menempatkannya sebagai kandidat terdepan peraih Sepatu Emas bahkan sebelum separuh musim berakhir.

Akan tetapi, mesin gol itu tiba-tiba macet menjelang akhir tahun. Selama tujuh pertandingan berturut-turut, Haaland hanya mampu menyarangkan satu gol — itu pun dari titik penalti kala City menjamu Brighton. Di periode kegelapan itulah peranan vital Haaland bagi tim Guardiola menjadi paling gamblang terlihat: tanpa golnya, City hanya mampu meraih dua kemenangan dari tujuh laga. Skuad yang selama ini dikenal nyaris tak terhentikan itu tiba-tiba tampak rapuh dan kehilangan arah.

Haaland berhasil bangkit kembali di paruh akhir musim, menunjukkan mengapa ia begitu ditakuti lawan-lawannya. Ia mencetak gol kemenangan dalam kunjungan City ke Anfield melawan Liverpool, lalu kembali menjadi pahlawan saat City menjamu Arsenal dalam laga yang oleh banyak kalangan disebut-sebut sebagai pertandingan penentu gelar. Dua gol penting di dua laga besar itu seolah menjadi sinyal bahwa City siap berjuang hingga garis akhir untuk merampas trofi dari tangan Arsenal.

Namun sepak bola tidak selalu berjalan mengikuti logika individu. Di sela-sela kemenangan atas Liverpool dan Arsenal itu, City justru tersandung di tempat-tempat yang tak terduga — kehilangan poin di Goodison Park melawan Everton dan di Vitality Stadium melawan Bournemouth. Dua hasil mengecewakan itu terbukti fatal. Arsenal, yang bertahan kokoh sepanjang musim, akhirnya dinobatkan sebagai kampiun Liga Premier untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. City, meski sudah berjuang keras dan memiliki top skor terbaik, harus puas dengan tangan hampa.

Di tengah kekecewaan kolektif itu, nama Haaland tetap bersinar. Dengan torehan 27 golnya, ia meninggalkan Igor Thiago dari Brentford di posisi kedua dengan selisih lima gol. Performa impresif Thiago — yang berhasil mencetak 22 gol dalam musim pertamanya yang penuh adaptasi di Premier League — membuatnya dipanggil masuk ke skuad tim nasional Brasil untuk Piala Dunia mendatang, sebuah reward yang layak atas kerja keras sang striker.

Sementara itu, Haaland sendiri kini bergabung dalam kelompok elit para pemenang tiga kali Sepatu Emas Liga Premier, sejajar dengan legenda-legenda seperti Alan Shearer dan Harry Kane. Dengan usianya yang baru menginjak 25 tahun, ia bahkan masih berada dalam posisi yang sangat realistis untuk mengejar rekor empat kali yang kini dipegang bersama oleh Mohamed Salah dan Thierry Henry — dua nama yang selama ini dianggap hampir mustahil untuk disamai dalam hal konsistensi mencetak gol di era Liga Premier.

Musim 2025/26 menjadi kisah dua sisi bagi Erling Haaland: di satu sisi, sebuah penghargaan individu bergengsi yang menegaskan dominasinya sebagai penyerang kelas dunia; di sisi lain, pengingat pahit bahwa prestasi kolektif — gelar juara — tetap tidak bisa diraih meski memiliki pencetak gol terbaik sekalipun. Dan sementara Arsenal merayakan mahkota keduapuluh dua tahun mereka, Haaland dan City sudah pasti akan kembali dengan tekad bulat musim depan.

HOT NEWS

TRENDING

Haaland Raih Sepatu Emas Ketiga, Tapi Gelar Juara Justru Lepas ke Tangan…

Keajaiban di Pekan Terakhir: Spurs Selamat, West Ham Terluka, dan Para Legenda…

Skwslot : Menunggu 28 Tahun, Skotlandia Akhirnya Tiba — dan Kini Mereka…

Skwslot : Skandal Mata-mata di Lapangan Latihan Southampton Dicoret, Middlesbrough Rebut Tiket…

Skwslot : Dua Puluh Dua Tahun Menanti Berakhir Sudah: Arsenal Akhirnya Berdiri…

Scroll to Top