#SKWNEWS skwslot
Maroko Bangkit Dua Kali, Haiti Ukir Sejarah di Laga Piala Dunia yang Penuh Drama
SKWNEWS – Maroko harus bekerja keras untuk menjaga langkah mereka di Piala Dunia setelah menundukkan Haiti 4-2 dalam pertandingan menegangkan di Atlanta, Rabu, dalam laga yang menghadirkan perubahan momentum, gol-gol penting, dan tekanan yang tidak pernah benar-benar mereda sampai peluit akhir. Kemenangan itu memastikan laju Maroko tetap terjaga, tetapi tidak cukup untuk membawa mereka finis sebagai pemuncak Grup C karena Brasil unggul selisih gol. Akibatnya, Maroko kini melanjutkan perjalanan ke Monterrey untuk menghadapi kemungkinan duel melawan Belanda atau Jepang pada hari Senin.
Bagi Haiti, hasil akhir memang menegaskan akhir perjalanan mereka di turnamen ini tanpa poin, tetapi pertandingan tersebut tetap menjadi malam yang akan diingat lama. Di tengah kekalahan itu, mereka akhirnya mencetak gol pertama di Piala Dunia dalam 52 tahun, sebuah pencapaian simbolis yang memberi makna besar bagi tim yang tampil untuk pertama kalinya di turnamen ini sejak 1974. Di stadion, ribuan ekspatriat Haiti yang memenuhi tribun di Atlanta menyambut setiap serangan dengan sorak sorai yang memekakkan telinga, menghadirkan suasana yang nyaris tidak terpengaruh oleh kenyataan bahwa Les Grenadiers sudah lebih dulu tersingkir setelah kalah dari Skotlandia dan Brasil.
Maroko datang ke pertandingan ini dengan modal meyakinkan setelah menahan imbang Brasil dan mengalahkan Skotlandia dalam dua laga pembuka. Namun pelatih Mohamed Ouahbi memilih melakukan empat perubahan pada susunan timnya, dan Singa Atlas justru memulai laga dengan cara yang tidak rapi. Mereka terlihat ceroboh, belum menemukan ritme, dan membiarkan Haiti bermain dengan keberanian yang langsung mengubah jalannya pertandingan sejak awal.
Penantian panjang Haiti untuk mencetak gol di panggung global berakhir hanya dalam 10 menit. Jean-Kevin Duverne mengirim bola dari garis gawang, lalu Lenny Joseph menyambut umpan silangnya dengan sundulan yang mengenai Yassine Bounou sebelum masuk ke gawang. Gol bunuh diri itu tak hanya memberi Haiti keunggulan, tetapi juga menjadi penanda berakhirnya puasa gol mereka di Piala Dunia yang telah berlangsung lebih dari setengah abad. Dari sudut pandang Maroko, itu adalah awal yang paling tidak diinginkan dalam pertandingan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk menekan Brasil dalam perebutan posisi puncak grup.
Di tengah situasi itu, Achraf Hakimi tetap menjadi figur utama dalam permainan Maroko. Kapten tim itu memimpin dari sektor kanan, terus bergerak maju dari pos bek kanan setiap kali peluang terbuka, dan berusaha mengangkat intensitas serangan timnya. Hakimi tetap memegang ban kapten meskipun di tengah turnamen ia mengetahui bahwa dirinya akan menghadapi persidangan atas tuduhan pemerkosaan di Prancis. Di lapangan, ia merespons dengan keterlibatan langsung yang sangat besar dalam usaha Maroko membalikkan keadaan.
Tekanan Maroko akhirnya mulai menghasilkan balasan mendekati akhir babak pertama. Pada menit ke-39, kiper Haiti yang berusia 38 tahun, Jonny Placide, yang memainkan pertandingan terakhirnya untuk negaranya, hanya bisa menepis tendangan Bilal El Khannouss ke area berbahaya. Hakimi berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat dan dengan mudah memaksa bola melewati garis gawang untuk menyamakan kedudukan. Gol itu terasa seperti momen ketika Maroko akan mengambil alih sepenuhnya permainan.
Namun pertandingan ini tidak memberi ruang bagi alur yang sederhana. Hanya dalam empat menit, Haiti kembali memimpin, dan kali ini dengan cara yang jauh lebih memukau. Wilson Isidor, penyerang Sunderland, memanfaatkan bola lepas di luar kotak penalti sebelum melepaskan tembakan keras yang melesat ke sudut atas gawang. Gol itu bukan sekadar membawa Haiti unggul 2-1, tetapi juga mengguncang kembali kepercayaan diri Maroko yang baru saja pulih. Reaksi di sisi lapangan pun terlihat jelas. Hakimi dan Ouahbi tampak marah melihat tim mereka kebobolan untuk kedua kalinya dalam laga yang semestinya bisa mereka kendalikan.
Meski begitu, pengalaman dan kualitas Maroko sebagai semifinalis Piala Dunia 2022 akhirnya kembali terlihat sebelum turun minum. Mereka merespons cepat agar tidak memasuki ruang ganti dalam posisi tertinggal. Kali ini Hakimi lagi-lagi menjadi sumber ancaman dengan umpan silang rendah dari sisi kanan, dan Ismael Saibari menyambutnya dengan penyelesaian dingin untuk mengubah skor menjadi 2-2. Itu merupakan gol ketiga Saibari dalam tiga pertandingan di Piala Dunia ini, catatan yang menegaskan betapa penting perannya dalam lini serang Maroko sepanjang fase grup.
Sebelum babak pertama berakhir, Maroko bahkan nyaris berbalik unggul sepenuhnya. Brahim Diaz melepaskan tendangan melengkung yang hanya digagalkan tiang gawang, menutup 45 menit pertama yang benar-benar berlangsung terbuka, cepat, dan mendebarkan. Haiti menunjukkan keberanian dan efisiensi yang luar biasa dalam memanfaatkan peluang, sementara Maroko memperlihatkan daya pulih yang membuat mereka tetap berada di jalur aman.
Memasuki babak kedua, konteks pertandingan menjadi semakin jelas bagi Maroko. Dengan Brasil sedang melaju menuju kemenangan atas Skotlandia di Miami, mereka tahu bahwa sekadar menang mungkin tidak cukup untuk merebut posisi puncak di Grup C. Hanya kemenangan dengan margin besar yang bisa mengubah susunan akhir klasemen. Tekanan itu menciptakan situasi yang rumit: Maroko harus terus menyerang untuk mengejar keunggulan gol, tetapi juga tidak boleh lengah lagi setelah dua kali dikejutkan Haiti.
Seiring waktu berjalan, Ouahbi mulai menyesuaikan fokus timnya. Dengan lebih dari 20 menit tersisa, ia menarik Saibari, yang akan bergabung dengan Bayern Munich, dan Diaz dari Real Madrid. Pergantian itu menunjukkan bahwa Maroko juga mulai menimbang kebutuhan mereka untuk babak 32 besar, bukan semata-mata memburu puncak grup yang kian sulit dijangkau. Keputusan itu kemudian terbukti tepat karena dua pemain pengganti justru memainkan peran penentu dalam memastikan kemenangan.
Gol yang akhirnya membawa Maroko unggul untuk pertama kalinya datang lewat Soufiane Rahimi dalam momen yang sarat emosi. Tendangan kerasnya dari situasi sepak pojok berubah arah setelah membentur pemain bertahan Haiti yang berupaya menyelamatkan gawang, lalu melesat ke sudut atas. Gol itu membuat Maroko unggul 3-2 dan membuka jalan menuju kemenangan setelah sepanjang pertandingan mereka terus dipaksa mengejar. Rahimi nyaris menangis saat selebrasi, sebuah gambaran yang menangkap betapa besar ketegangan dan kelegaan yang menyertai momen tersebut.
Haiti belum menyerah, tetapi tenaga dan ruang mereka semakin menipis. Maroko kemudian memastikan hasil akhir melalui serangan yang kembali menonjolkan peran pemain pengganti. Rahimi merebut bola di garis gawang Haiti dan mengirimkan umpan silang yang disambut Gessime Yassine ke gawang kosong. Gol itu menutup skor menjadi 4-2, memberi Maroko kemenangan yang pada akhirnya pantas mereka raih, meski harus melewati pertandingan yang jauh lebih sulit daripada yang mungkin mereka bayangkan sebelum sepak mula.
Bagi Maroko, kemenangan ini memperpanjang momentum dan menjaga keyakinan menjelang fase gugur, tetapi juga meninggalkan pengingat bahwa mereka tidak boleh memberi terlalu banyak ruang bagi lawan untuk menghukum kelengahan. Dua kali tertinggal dari tim yang sudah dipastikan tersingkir menunjukkan adanya sisi rapuh yang harus segera mereka benahi. Meski demikian, kemampuan untuk bangkit dua kali dan kemudian menuntaskan pertandingan dengan dua gol balasan juga menegaskan kualitas mental mereka.
Sementara itu, Haiti meninggalkan turnamen tanpa angka, tetapi bukan tanpa kebanggaan. Dalam Piala Dunia pertama mereka sejak 1974, mereka memang kalah dari Skotlandia, Brasil, dan kini Maroko, namun penampilan mereka tetap memberikan momen bersejarah melalui gol pertama di turnamen ini dalam 52 tahun. Di tengah segala keterbatasan yang membayangi negara mereka, Les Grenadiers tetap memberi alasan bagi para pendukungnya untuk berdiri, bersorak, dan pulang dengan rasa bangga. Dalam kekalahan pun, Haiti berhasil memastikan bahwa kisah mereka di Atlanta tidak akan sekadar tercatat sebagai hasil akhir 4-2, melainkan sebagai malam ketika mereka memberi perlawanan, mencetak sejarah, dan memaksa Maroko mengeluarkan seluruh ketahanan mereka untuk tetap melaju.
-
14 Jul 2026Lamine Yamal Genap 19 Tahun, Dari Nama Penuh Makna hingga Panggung Piala Dunia yang Kian Membesarkan Namanya
-
14 Jul 2026Prancis vs Spanyol, Duel Raksasa Eropa yang Mengantar Mimpi ke Final Piala Dunia
-
12 Jul 2026Duka Besar Afrika Selatan, Jayden Adams Meninggal di Usia 25 Tahun Usai Tampil di Piala Dunia
-
12 Jul 2026Klopp Kian Dekat ke Kursi Jerman, DFB Mulai Susun Era Baru Tim Nasional
-
12 Jul 2026Bellingham Menggila, Inggris Bangkit Dramatis dan Melaju ke Semifinal Piala Dunia
-
08 Jul 2026Solbakken Puji Keunikan Haaland Jelang Norwegia vs Inggris di Perempat Final Piala Dunia 2026
-
08 Jul 2026Valencia Resmi Ikat Ryunosuke Sato hingga 2031, Talenta Muda Jepang Siap Perkuat Lini Serang
-
07 Jul 2026Swiss dan Kolombia Berburu Tiket Perempat Final di Tengah Ketatnya Persaingan Piala Dunia
-
07 Jul 2026Roberto Martinez Akhiri Kiprah Bersama Portugal Usai Tersingkir di Piala Dunia
-
06 Jul 2026Ronaldo, Kritik, dan Piala Dunia Terakhir yang Dijalani dengan Hati Nurani Bersih
HOT NEWS
TRENDING
#SKWNEWS skwslot Khaldoon Ungkap Guardiola Sempat Ingin Mundur Berkali-kali Sebelum Akhirnya Tinggalkan Manchester City SKWNEWS – Ketua Manchester City,…
#SKWNEWS skwslot Liverpool Resmi Tunjuk Andoni Iraola, Harapan Baru Setelah Musim yang Mengecewakan SKWNEWS – Liverpool resmi menunjuk Andoni…
#SKWNEWS skwslot Lima Tahun yang Mengubah Segalanya: Marco Silva Tinggalkan Fulham, Benfica Menanti sang Arsitek Kebangkitan The Cottagers SKWNEWS…
#SKWNEWS skwslot James Milner, Pemecah Rekor Liga Premier yang Melewati Segalanya, Resmi Gantung Sepatu di Usia 40 Tahun SKWNEWS…
#SKWNEWS skwslot Haaland Raih Sepatu Emas Ketiga, Tapi Gelar Juara Justru Lepas ke Tangan Arsenal SKWNEWS – Erling Haaland…
-
Manchester United 2-0 PAOK, MU Raih Kemenangan Perdana di Liga Europa Berkat Brace Amad
-
Pelatih Dortmund, Sahin Lega Karena Beberapa Pemainnya Mulai Pulih Jelang Laga Kontra Freiburg
-
Setelah Kalah Beruntun Empat Kali City Diminta Menemukan Kembali Performa Terbaiknya
-
Brasil Masih Tertatih Dan Hanya Bermain Imbang 1-1 Saat Menjamu Uruguay
-
Argentina Menang Tipis 1-0 Atas Peru, Cukup Untuk Membawa 3 Poin dan Nyaman Di Puncak Klasemen Conmebol
-
Cukur Leicester 3-0, Manchester United Masih Butuh Banyak Kemenangan
-
Norwegia Bantai Kazakhstan 5-0, Haaland Cetak Hat-trick Untuk Norwegia Amankan Promosi Nations League
-
Dua Gol Marselino Tumbangkan Arab Saudi di Stadion Gelora Bung Karno
-
Barcelona Menunda Kembali Ke Camp Nou Hingga Pertengahan Februari Tahun Depan
-
Manajer Manchester City Pep Guardiola Menandatangani Perpanjangan Kontrak
-
Inggris Menyingkirkan Irlandia 5-0 dan Memuncaki Grup Nations League
-
Bundesliga: Gol Schick Membawa Leverkusen Meraih Kemenangan 2-1 di Union
-
Madrid Kalah Beruntun Di Santiago Bernabeu, Para Penggemar Kecewa
-
Bermain Imbang 1-1 Kontra Chelsea: Rekor Tanpa Kemenangan The Gunners Berlanjut di Stamford Bridge
-
La Liga: Barcelona Takluk Dari Las Palmas 1-2 di Kandang
-
Dua Gol Lewandowski Bantu Blaugrana Raih Kemenangan Meyakinkan 5-2 Kontra Red Star Belgrade
-
Brace Olmo Membawa Barcelona Semakin Menjauh di Puncak Klasemen
-
Serie A : Lookman Cetak Dua Gol Saat Atalanta Menghancurkan Napoli 3-0
-
Manchester United Menkonfirmasi Penunjukan Ruben Amorim Sebagai Manajer Baru MU
-
Tugas Berat Garuda Setelah Kalah Dari Jepang 4-0, Kini Harus Menang Kontra Arab Saudi