#SKWNEWS skwslot
Inggris Tertahan Ghana, Jalan Menuju Puncak Grup L Masih Terjal
SKWNEWS – Inggris mengalami kemunduran di Piala Dunia setelah ditahan imbang 0-0 oleh Ghana dalam pertandingan yang seharusnya bisa menjadi panggung untuk menegaskan ambisi mereka sebagai calon juara Grup L. Hasil ini memang belum menimbulkan konsekuensi dramatis, karena langkah ke babak 32 besar nyaris tetap aman, tetapi penampilan yang ditunjukkan memunculkan kembali pertanyaan lama tentang seberapa jauh tim ini benar-benar mampu melangkah di turnamen. Setelah sebelumnya membuka perjalanan mereka dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia, laga melawan Ghana justru menghadirkan gambaran yang jauh lebih suram: Inggris menguasai bola, terus menekan, namun tak kunjung menemukan cara untuk menaklukkan pertahanan lawan yang disiplin dan kiper pengganti yang tampil tenang di bawah tekanan.
Di hadapan 63.983 penonton di Stadion Gillette dekat Boston, Inggris memang tampil sebagai tim yang lebih dominan hampir sepanjang pertandingan. Mereka mengendalikan penguasaan bola, mendorong permainan ke wilayah Ghana, dan melepaskan 19 tembakan berbanding hanya dua milik lawan. Namun dominasi statistik itu tidak pernah benar-benar terasa meyakinkan. Inggris terlalu sering berputar di area sepertiga akhir tanpa sentuhan akhir yang tajam, tanpa kombinasi yang cukup rapi, dan tanpa ancaman yang konsisten untuk membuat Ghana kehilangan bentuk. Dalam kondisi lembap dan dingin, permainan mereka berjalan datar, kerap tersendat, dan pada beberapa fase bahkan mengingatkan pada sejumlah penampilan buruk yang sempat membayangi mereka di Euro 2024.
Itulah bagian yang paling meresahkan bagi Inggris. Secara hasil, satu poin masih menjaga mereka tetap dalam posisi kuat untuk melaju. Secara konteks klasemen pun, mereka dan Ghana kini sama-sama mengoleksi empat poin dengan satu pertandingan tersisa di Grup L, sehingga peluang lolos hampir pasti tetap terbuka lebar bagi kedua tim. Namun posisi akhir grup masih belum pasti, dan bagi Inggris, targetnya jelas bukan sekadar lolos. Mereka masih harus bekerja keras untuk mengunci status sebagai juara grup. Karena itu, pertandingan ini terasa seperti langkah mundur, bukan hanya karena skor akhirnya, melainkan karena cara mereka kehilangan momentum setelah kemenangan meyakinkan di laga pertama.
Ghana datang dengan kepercayaan diri yang tak bisa diremehkan. Tim yang berada di peringkat ke-73 dunia, atau 69 tingkat di bawah Inggris, menunjukkan organisasi bertahan yang gigih dan disiplin sepanjang laga. Mereka bertahan dengan brilian, menutup ruang, memaksa Inggris bermain melebar, lalu menyulitkan setiap upaya penetrasi yang benar-benar berbahaya. Hasil ini juga memperkuat kesan bahwa keputusan Ghana yang terlambat menunjuk Carlos Queiroz sebagai pelatih adalah langkah yang tepat. Setelah kemenangan pembuka 1-0 atas Panama, Ghana kembali menunjukkan bahwa mereka tahu persis bagaimana bertanding sesuai kebutuhan, bahkan ketika harus menghadapi lawan yang jauh lebih diunggulkan di atas kertas. Dengan empat poin yang kini mereka miliki, mereka pun akan menatap laga terakhir melawan Kroasia di Philadelphia dengan keyakinan yang sama besarnya.
Bagi Inggris, kesulitan terbesar justru terlihat dari betapa jarangnya mereka sungguh-sungguh mampu menguji Benjamin Asare. Kiper Hearts of Oak itu masuk sebagai pilihan Ghana setelah Lawrence Ati Zigi cedera saat melawan Panama, tetapi malam ini ia tidak terlalu sering dipaksa melakukan aksi-aksi luar biasa. Itu menjadi sumber kekhawatiran tersendiri, karena Inggris punya begitu banyak waktu menguasai bola namun terlalu sedikit momen ketika gawang lawan benar-benar berada dalam ancaman serius. Bahkan hampir satu jam pertandingan berjalan, Inggris baru mampu memaksa Asare membuat penyelamatan penting, itu pun relatif mudah ketika ia menggagalkan peluang Anthony Gordon.
Pada babak pertama, Inggris sempat menunjukkan sinyal bahwa mereka bisa membuka kebuntuan lewat situasi bola mati. Peluang terbaik mereka di paruh awal datang dari tendangan bebas Declan Rice yang melayang tipis di atas gawang. Di luar itu, serangan-serangan Inggris lebih sering berhenti sebelum mencapai penyelesaian yang benar-benar bersih. Harry Kane kembali memimpin lini depan, tetapi ia gagal mencetak gol dan tetap tertahan di 10 gol Piala Dunia, sejajar dengan Gary Lineker sebagai top skor sepanjang masa Inggris di turnamen ini. Angka itu semestinya menjadi penanda ketajaman, tetapi pada malam seperti ini justru terasa seperti beban yang belum terlepaskan.
Ketika alur pertandingan menuntut perbedaan datang dari sisi lapangan, Inggris juga tidak mendapatkannya. Noni Madueke dan Anthony Gordon gagal memberi dampak yang cukup di sayap. Keduanya berusaha membuka ruang dan menghidupkan duel satu lawan satu, tetapi Ghana terlalu rapi dalam menutup celah dan terlalu sigap dalam membantu pertahanan. Para pemain pengganti yang masuk pun tidak memberi pengaruh menentukan. Inggris tetap dominan, tetap terlihat lebih agresif, tetapi semua itu berlangsung tanpa perubahan tempo yang benar-benar bisa merusak struktur pertahanan Ghana.
Ada sejumlah detail pertandingan yang semakin menambah rasa frustrasi dari sudut pandang Inggris. Jude Bellingham menjalani penampilan ke-50, sementara Marc Guehi dan Djed Spence masuk menggantikan John Stones dan Nico O’Reilly di lini belakang. Namun rotasi dan perubahan personel itu tidak banyak mengubah warna permainan. Inggris tetap tampak aman dalam penguasaan, tetapi kurang tajam dalam pengambilan keputusan di area berbahaya. Mereka seperti memainkan pertandingan yang terkendali, tetapi tanpa keberanian atau ketepatan yang dibutuhkan untuk benar-benar menuntaskannya.
Di sisi lain, Ghana juga sempat memiliki momen yang bisa memicu perdebatan. Mereka mungkin merasa Jordan Pickford seharusnya dihukum ketika keluar dari kotak penalti dan menabrak Prince Adu tanpa menyentuh bola. Namun alih-alih mendapat keuntungan, justru Inggris yang memperoleh tendangan bebas. Insiden itu menjadi salah satu sedikit momen ketika rekor Inggris yang belum pernah kalah dari tim Afrika di Piala Dunia seolah sempat terusik, walau secara umum catatan tersebut nyaris tidak benar-benar berada dalam ancaman serius. Ghana tidak banyak menyerang, tetapi mereka cukup cerdik untuk memanfaatkan celah emosional pertandingan, dan itu sempat menimbulkan ketegangan di kubu Inggris.
Kepanikan lain juga sempat muncul ketika pemain pengganti Adu berlari ke area penalti, hanya saja ia gagal melepaskan tembakan. Itu merupakan pengingat bahwa sekalipun Inggris jauh lebih dominan, pertandingan seperti ini bisa berubah arah hanya dalam satu momen yang tidak terduga. Ghana hampir tidak menciptakan tekanan besar sepanjang laga, tetapi kemampuan mereka bertahan membuat setiap serangan balik atau transisi kecil terasa lebih berbahaya daripada yang seharusnya.
Konteks personal dan situasional di kubu Ghana juga memberi warna tersendiri pada hasil ini. Thomas Partey kembali bermain setelah absen melawan Panama karena otoritas Kanada menolak visanya. Kehadirannya menambah ketenangan dan pengalaman di lini tengah Ghana, dalam konteks bahwa ia sedang menghadapi persidangan atas tuduhan pemerkosaan di Inggris. Di belakangnya, Asare menjawab kepercayaan dengan penampilan yang kukuh, menegaskan bahwa Ghana bukan sekadar bertahan dalam jumlah, melainkan juga dengan keyakinan dan ketenangan yang terorganisasi.
Tekanan Inggris meningkat pada menit-menit akhir, dan di situlah mereka paling dekat dengan kemenangan. Bukayo Saka sempat digagalkan Asare, lalu peluang terbaik datang ketika Nico O’Reilly hampir mencetak gol lewat sundulan jarak dekat yang membentur mistar. Itu menjadi momen yang merangkum seluruh malam Inggris: datang terlambat, begitu dekat, tetapi tetap tidak cukup. Sesaat kemudian Kane juga mendapat kesempatan, namun tembakannya melambung. Rangkaian peluang penutup itu membuat hasil imbang terasa semakin pahit, karena Inggris akhirnya menunjukkan urgensi yang sejak lama dibutuhkan, tetapi hanya ketika waktu hampir habis.
Pada akhirnya, hasil ini tidak mengguncang fondasi perjalanan Inggris di turnamen, tetapi jelas memperlihatkan bahwa jalan mereka masih jauh dari meyakinkan. Mereka tetap dekat dengan babak 32 besar dan kini hanya perlu melewati laga grup terakhir melawan Panama di Stadion MetLife pada Sabtu. Meski begitu, pertanyaan yang muncul setelah malam di dekat Boston ini akan sulit dihindari. Inggris boleh jadi belum kalah, dan rekor mereka atas wakil Afrika di Piala Dunia tetap terjaga, tetapi hasil seri tanpa gol ini menyoroti persoalan yang lebih besar daripada sekadar angka di klasemen. Tim ini masih memiliki kualitas, masih punya waktu, dan masih berada di posisi yang menguntungkan. Namun bila mereka ingin melaju jauh, apalagi menjuarai turnamen, mereka harus menunjukkan wajah yang jauh lebih tajam, lebih hidup, dan lebih meyakinkan daripada yang terlihat saat ditahan Ghana.
-
14 Jul 2026Lamine Yamal Genap 19 Tahun, Dari Nama Penuh Makna hingga Panggung Piala Dunia yang Kian Membesarkan Namanya
-
14 Jul 2026Prancis vs Spanyol, Duel Raksasa Eropa yang Mengantar Mimpi ke Final Piala Dunia
-
12 Jul 2026Duka Besar Afrika Selatan, Jayden Adams Meninggal di Usia 25 Tahun Usai Tampil di Piala Dunia
-
12 Jul 2026Klopp Kian Dekat ke Kursi Jerman, DFB Mulai Susun Era Baru Tim Nasional
-
12 Jul 2026Bellingham Menggila, Inggris Bangkit Dramatis dan Melaju ke Semifinal Piala Dunia
-
08 Jul 2026Solbakken Puji Keunikan Haaland Jelang Norwegia vs Inggris di Perempat Final Piala Dunia 2026
-
08 Jul 2026Valencia Resmi Ikat Ryunosuke Sato hingga 2031, Talenta Muda Jepang Siap Perkuat Lini Serang
-
07 Jul 2026Swiss dan Kolombia Berburu Tiket Perempat Final di Tengah Ketatnya Persaingan Piala Dunia
-
07 Jul 2026Roberto Martinez Akhiri Kiprah Bersama Portugal Usai Tersingkir di Piala Dunia
-
06 Jul 2026Ronaldo, Kritik, dan Piala Dunia Terakhir yang Dijalani dengan Hati Nurani Bersih
HOT NEWS
TRENDING
#SKWNEWS skwslot Khaldoon Ungkap Guardiola Sempat Ingin Mundur Berkali-kali Sebelum Akhirnya Tinggalkan Manchester City SKWNEWS – Ketua Manchester City,…
#SKWNEWS skwslot Liverpool Resmi Tunjuk Andoni Iraola, Harapan Baru Setelah Musim yang Mengecewakan SKWNEWS – Liverpool resmi menunjuk Andoni…
#SKWNEWS skwslot Lima Tahun yang Mengubah Segalanya: Marco Silva Tinggalkan Fulham, Benfica Menanti sang Arsitek Kebangkitan The Cottagers SKWNEWS…
#SKWNEWS skwslot James Milner, Pemecah Rekor Liga Premier yang Melewati Segalanya, Resmi Gantung Sepatu di Usia 40 Tahun SKWNEWS…
#SKWNEWS skwslot Haaland Raih Sepatu Emas Ketiga, Tapi Gelar Juara Justru Lepas ke Tangan Arsenal SKWNEWS – Erling Haaland…
-
Manchester United 2-0 PAOK, MU Raih Kemenangan Perdana di Liga Europa Berkat Brace Amad
-
Pelatih Dortmund, Sahin Lega Karena Beberapa Pemainnya Mulai Pulih Jelang Laga Kontra Freiburg
-
Setelah Kalah Beruntun Empat Kali City Diminta Menemukan Kembali Performa Terbaiknya
-
Brasil Masih Tertatih Dan Hanya Bermain Imbang 1-1 Saat Menjamu Uruguay
-
Argentina Menang Tipis 1-0 Atas Peru, Cukup Untuk Membawa 3 Poin dan Nyaman Di Puncak Klasemen Conmebol
-
Cukur Leicester 3-0, Manchester United Masih Butuh Banyak Kemenangan
-
Norwegia Bantai Kazakhstan 5-0, Haaland Cetak Hat-trick Untuk Norwegia Amankan Promosi Nations League
-
Dua Gol Marselino Tumbangkan Arab Saudi di Stadion Gelora Bung Karno
-
Barcelona Menunda Kembali Ke Camp Nou Hingga Pertengahan Februari Tahun Depan
-
Manajer Manchester City Pep Guardiola Menandatangani Perpanjangan Kontrak
-
Inggris Menyingkirkan Irlandia 5-0 dan Memuncaki Grup Nations League
-
Bundesliga: Gol Schick Membawa Leverkusen Meraih Kemenangan 2-1 di Union
-
Madrid Kalah Beruntun Di Santiago Bernabeu, Para Penggemar Kecewa
-
Bermain Imbang 1-1 Kontra Chelsea: Rekor Tanpa Kemenangan The Gunners Berlanjut di Stamford Bridge
-
La Liga: Barcelona Takluk Dari Las Palmas 1-2 di Kandang
-
Dua Gol Lewandowski Bantu Blaugrana Raih Kemenangan Meyakinkan 5-2 Kontra Red Star Belgrade
-
Brace Olmo Membawa Barcelona Semakin Menjauh di Puncak Klasemen
-
Serie A : Lookman Cetak Dua Gol Saat Atalanta Menghancurkan Napoli 3-0
-
Manchester United Menkonfirmasi Penunjukan Ruben Amorim Sebagai Manajer Baru MU
-
Tugas Berat Garuda Setelah Kalah Dari Jepang 4-0, Kini Harus Menang Kontra Arab Saudi