Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Kisah Bek Selandia Baru yang Mendadak Viral Berkat Seorang Influencer Argentina

 

SKWNEWS – Tidak banyak pemain yang bisa mengklaim bahwa perjalanan menuju Piala Dunia mereka dimulai dari sebuah video yang dibuat oleh seseorang yang bahkan belum pernah menyaksikannya bermain. Namun itulah yang terjadi pada Tim Payne, bek berusia 32 tahun yang membela Wellington Phoenix di liga domestik Australia dan mengenakan seragam All Whites, tim nasional Selandia Baru, menjelang turnamen empat tahunan terbesar di dunia.

Beberapa hari lalu, nama Payne hampir tidak terdengar di luar lingkaran penggemar sepak bola Oceania yang memang tidak terlalu besar. Akun Instagramnya hanya diikuti oleh sekitar 4.715 orang — angka yang lumrah untuk seorang pesepak bola profesional yang bermain di kompetisi yang jauh dari sorotan media internasional. Lalu datanglah Valen Scarsini, seorang influencer asal Argentina yang dikenal di Instagram dan TikTok dengan nama pengguna elscarso, dan segalanya berubah dalam semalam.

Scarsini membuat sebuah video yang mengajak para pengikutnya untuk memberikan like, komentar, dan menekan tombol follow pada akun media sosial Tim Payne. Alasannya sederhana namun mengena: Payne disebut sebagai pemain yang paling tidak dikenal di antara semua peserta Piala Dunia mendatang, dan Scarsini ingin mengubah itu. Video tersebut menyebar cepat, diperkuat oleh algoritma dan antusiasme jutaan pengikut Scarsini yang rupanya merespons seruan itu dengan sungguh-sungguh.

Hasilnya luar biasa. Dalam hitungan hari, jumlah pengikut Tim Payne melonjak tajam — dari 4.715 menjadi lebih dari 660.000 pengikut. Angka itu bukan sekadar besar secara absolut; ia bahkan melampaui jumlah pengikut beberapa tokoh publik ternama Selandia Baru, termasuk Perdana Menteri Christopher Luxon, bintang rugby Ardie Savea, dan bahkan Scarsini sendiri, sang kreator yang memulai semua ini. Sebuah ironi yang tidak luput dari perhatian banyak pihak: orang yang membuat orang lain viral kini justru kalah populer dari orang yang ia viralkan.

Payne sendiri mengaku tidak langsung memahami apa yang sedang terjadi. Ia baru menyadari kehebohan itu setelah membuka ponselnya dan mendapati notifikasi media sosialnya seperti tidak berhenti berbunyi. Ia pun menelusuri sumber keramaian itu hingga akhirnya menemukan unggahan Scarsini. “Saya penasaran mengapa media sosial saya ramai dan menemukan unggahan Anda. Terima kasih atas dukungannya! Gracias, hermano,” tulis Payne kepada Scarsini — sebuah pesan singkat yang merangkum kejutan, rasa syukur, dan sedikit selera humor dari seorang pria yang selama ini lebih nyaman bermain tanpa banyak kamera mengarah kepadanya.

Nama Tim Payne sendiri sebenarnya pernah mencuat ke permukaan, meski bukan dalam konteks yang ia inginkan. Pada tahun 2020, di tengah kekacauan pandemi COVID-19, Payne menjadi sorotan setelah dikabarkan melanggar aturan karantina di Australia. Tidak berhenti di situ, ia juga menghadapi dakwaan terkait mengemudi dalam keadaan mabuk menggunakan kereta golf bersama seorang rekan setimnya. Sebuah pengadilan di Sydney kemudian menjatuhkan denda sebesar A$700 kepadanya. Kejadian itu menjadi noda kecil yang sempat menempel pada namanya, sebelum perlahan terlupakan seiring berjalannya waktu dan minimnya eksposur publik yang ia terima.

Sejak episode tersebut, Payne memang cenderung menjalani karier yang jauh dari keributan. Ia dikenal sebagai pemain serbaguna yang bisa diandalkan oleh Wellington Phoenix, tetapi bukan tipe yang kerap muncul di halaman depan surat kabar atau mendominasi perbincangan di kedai kopi penggemar sepak bola. Hidupnya sebagian besar berjalan di bawah radar — hingga seorang pria dari Argentina memutuskan untuk mengubah itu.

Kini, dengan Piala Dunia sudah di depan mata, Payne masuk dalam skuad yang disiapkan oleh pelatih Darren Bazeley untuk menghadapi turnamen besar pertama mereka sejak beberapa tahun terakhir. Selandia Baru adalah tim berperingkat paling rendah di antara seluruh peserta Piala Dunia kali ini, sebuah kenyataan yang tidak membuat mereka kurang bersemangat, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Mereka tergabung dalam Grup G bersama Iran, Mesir, dan Belgia — sebuah kelompok yang tidak menyediakan jalan mudah untuk lolos ke babak berikutnya.

Laga perdana All Whites dijadwalkan berlangsung pada 15 Juni di Los Angeles, ketika mereka akan menghadapi Iran. Setelah itu, Selandia Baru akan berturut-turut menghadapi Mesir dan Belgia dalam fase grup. Bagi Payne, turnamen ini membawa makna tersendiri. Saat ini ia telah mengoleksi 50 caps bersama tim nasional Selandia Baru, dan ia berharap dapat menambah angka itu di panggung paling bergengsi dalam sepak bola dunia.

Ada sesuatu yang agak puitis dalam kisah ini. Di tengah industri sepak bola yang semakin didominasi oleh nama-nama besar, kontrak menggiurkan, dan mesin publisitas yang bekerja tanpa henti, seorang bek yang bermain di liga yang jarang disebut dalam percakapan global tiba-tiba menjadi perbincangan jutaan orang — bukan karena gol spektakuler, bukan karena kepindahan besar, melainkan karena seorang asing dari belahan dunia lain memutuskan bahwa ia layak untuk dikenal. Dan dunia, ternyata, setuju.

Tim Payne kini berangkat ke Piala Dunia bukan hanya sebagai pemain cadangan yang berharap mendapat menit bermain, tetapi sebagai seseorang yang sudah memiliki lebih dari setengah juta pasang mata yang mengikuti perjalanannya. Itu bukan hal kecil — meski ia mungkin masih lebih nyaman berada di lapangan daripada di depan kamera.

HOT NEWS

TRENDING

Haaland Raih Sepatu Emas Ketiga, Tapi Gelar Juara Justru Lepas ke Tangan…

Keajaiban di Pekan Terakhir: Spurs Selamat, West Ham Terluka, dan Para Legenda…

Skwslot : Menunggu 28 Tahun, Skotlandia Akhirnya Tiba — dan Kini Mereka…

Skwslot : Skandal Mata-mata di Lapangan Latihan Southampton Dicoret, Middlesbrough Rebut Tiket…

Skwslot : Dua Puluh Dua Tahun Menanti Berakhir Sudah: Arsenal Akhirnya Berdiri…

Scroll to Top