Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Messi Tetap Jadi Magnet, Argentina Melenggang ke 32 Besar dengan Langkah Mantap

 

SKWNEWS Lionel Messi kembali menegaskan bahwa kehadirannya tetap menjadi pusat perhatian sekaligus pembeda bagi Argentina saat sang juara bertahan melaju ke babak 32 besar Piala Dunia dengan keyakinan penuh. Dalam laga yang menjadi pemanasan menuju fase gugur, Argentina menundukkan Yordania 3-1 dan menutup kiprahnya di Grup J dengan catatan sempurna. Messi memang tidak tampil sejak menit pertama, tetapi bahkan dari bangku cadangan pun ia tetap menjadi tokoh utama. Masuk setelah satu jam pertandingan di Texas, ia disambut sorak sorai meriah sebelum akhirnya mencetak gol ketiga Argentina melalui tendangan bebas, gol keenamnya di turnamen ini.

Pada 28/06/2026 pukul 12:26, sorotan kembali mengarah kepada pemain berusia 39 tahun itu, sosok yang seolah tak tersentuh waktu. Saat Piala Dunia di Amerika Utara memasuki babak 32 besar, Messi memimpin daftar pencetak gol, sebuah penanda bahwa pengaruhnya belum memudar sedikit pun. Para pemain Tanjung Verde, lawan Argentina berikutnya pada 3 Juli di Miami, tentu punya alasan untuk mengamati laga ini dengan saksama. Tim debutan yang menempati peringkat ke-67 dunia itu akan berhadapan dengan juara bertahan yang datang dengan modal tiga kemenangan, sembilan poin, dan seorang kapten yang terus mencetak gol.

Dengan tiket ke fase berikutnya sudah aman di tangan, pelatih Lionel Scaloni memilih merotasi skuadnya secara besar-besaran. Ia melakukan sembilan perubahan dari susunan pemain saat mengalahkan Austria, hanya mempertahankan kiper Emiliano Martinez dan penyerang Lautaro Martinez. Pertandingan ini memang tidak lagi menentukan nasib kedua tim dalam konteks klasemen. Argentina sudah lolos, sementara Yordania sudah tersingkir setelah kekalahan dari Aljazair dan Austria menutup perjalanan mereka pada penampilan pertama di Piala Dunia. Namun bagi Argentina, laga ini tetap penting. Persaingan di dalam skuad sangat ketat, dan Scaloni ingin timnya bergabung dengan Prancis serta tuan rumah bersama Meksiko sebagai tim yang menuntaskan fase grup dengan sembilan poin penuh.

Selain itu, Argentina juga ingin mengirim pernyataan yang tegas sebelum menghadapi kejutan turnamen, Tanjung Verde. Ambisi mereka jelas: terus melaju dan mencoba menjadi tim pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu menjuarai Piala Dunia secara beruntun. Walau berada di salah satu grup yang dinilai lebih lemah, Argentina dan pemain andalannya tetap terlihat tangguh. Mereka tampil seperti tim yang tahu persis apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan mahkota, dan tahu pula bagaimana menjaga ritme sebelum tekanan sesungguhnya datang di fase gugur.

Atmosfer di markas Dallas Cowboys memberi panggung yang sempurna bagi penampilan Argentina. Stadion dipenuhi pendukung Albiceleste yang sejak awal menciptakan suasana kandang jauh dari rumah. Tim mereka pun langsung merespons dukungan itu dengan dominasi sejak peluit awal. Aliran bola lebih banyak berada di kaki para pemain Argentina, tempo permainan mereka terjaga, dan Yordania dipaksa bertahan lebih dalam untuk menahan gelombang serangan yang terus datang.

Keunggulan Argentina lahir pada menit ke-19 melalui momen yang menghadirkan kualitas sekaligus ketenangan. Giovani Lo Celso membuka skor lewat tendangan bebas melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Yordania, Yazeed Abulaila, yang entah bagaimana justru bergerak ke arah berlawanan. Bola meluncur ke gawang dan mengawali pesta yang sejak awal memang terasa sedang dibangun Argentina. Dari pinggir lapangan, Messi terlihat santai dan tersenyum lebar, seolah menikmati bagaimana rekan-rekannya mengendalikan pertandingan bahkan ketika ia belum turun ke lapangan.

Tak lama setelah gol pembuka itu, Argentina menggandakan keunggulan melalui Lautaro Martinez. Gol kedua datang dari titik penalti setelah tinjauan VAR, pada situasi ketika Marcos Senesi tampak mendapat tendangan di wajah saat mencoba menyambut bola dengan sundulan diving. Setelah pemeriksaan selesai dan penalti diberikan, Lautaro Martinez menjalankan tugasnya dengan baik untuk membawa Argentina menjauh. Keunggulan dua gol itu semakin menegaskan jalannya pertandingan: Argentina lebih rapi, lebih tenang, dan jauh lebih berbahaya setiap kali masuk ke area akhir.

Menjelang turun minum, suasana di stadion mulai berubah menjadi penantian kolektif. Penonton mulai meneriakkan nama Messi, kapten mereka, pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia menurut materi pertandingan ini. Ada semacam harapan bersama yang menggantung di udara: laga sudah terkendali, Argentina unggul, dan semua orang ingin melihat sang nomor 10 kembali beraksi. Momen itu akhirnya datang ketika Messi mulai melepas baju latihnya untuk masuk ke lapangan setelah satu jam pertandingan.

Namun tepat ketika sorotan menguat ke arah bangku cadangan Argentina, Yordania sempat memberi kejutan. Sekitar 10 menit setelah babak kedua dimulai, Mousa Al-Tamari mencetak gol dari jarak dekat untuk memperkecil kedudukan menjadi 2-1. Gol itu mengejutkan sebagian besar stadion, bukan karena mengubah arah besar pertandingan, melainkan karena muncul di saat semua perhatian sedang tertuju pada Messi yang bersiap masuk. Untuk sesaat, Yordania menemukan ruang untuk mengganggu ketenangan Argentina dan memberi mereka satu momen yang layak dikenang sebelum perjalanan Piala Dunia pertama mereka resmi berakhir.

Setelah itu, irama pertandingan menurun dan laga sempat terasa seperti pertandingan persahabatan. Intensitas tidak lagi setinggi babak pertama, seolah kedua tim memahami konteks laga yang tidak akan mengubah jalan turnamen mereka. Argentina tetap memegang kendali, Yordania berusaha bertahan dengan tertib, dan stadion menunggu satu hal yang belum terjadi: sentuhan khas Messi. Ketika ia akhirnya masuk, sambutan yang diterimanya begitu meriah, menegaskan lagi bahwa bahkan di fase ketika Argentina sudah nyaman, daya tarik utama tetap berada pada dirinya.

Momen yang ditunggu itu hadir saat pertandingan menyisakan 10 menit. Messi mengeksekusi tendangan bebas yang berbuah gol ketiga Argentina, menutup perlawanan Yordania dan melengkapi kemenangan 3-1. Gol itu disebut sebagai tendangan bebas lemah, tetapi cukup untuk menuntaskan pekerjaan dan menambah koleksi pribadinya di turnamen ini menjadi enam. Dengan demikian, ia memperpanjang rangkaian produktifnya setelah sebelumnya mencetak hat-trick ke gawang Aljazair dan dua gol saat melawan Austria. Dari tiga pertandingan fase grup, seluruh gol Argentina memang mengalir atas nama Messi: tiga ke gawang Aljazair, dua ke gawang Austria, dan satu lagi saat menutup fase grup melawan Yordania.

Argentina pun finis di puncak Grup J dengan poin maksimal, setelah lebih dulu mengalahkan Aljazair 3-0 dan Austria 2-0 sebelum menundukkan Yordania 3-1. Hasil itu memberi mereka landasan yang nyaris tak bisa diminta lebih baik untuk memasuki babak gugur. Mereka bukan hanya lolos, melainkan melangkah dengan ritme, kepercayaan diri, dan efisiensi yang terjaga. Rotasi besar yang dilakukan Scaloni tidak mengganggu kestabilan tim, justru memperlihatkan kedalaman skuad yang siap menopang ambisi besar mempertahankan gelar.

Bagi Yordania, kekalahan ini memastikan akhir dari perjalanan yang singkat pada Piala Dunia pertama mereka. Meski laga tidak lagi menentukan nasib di klasemen, mereka setidaknya sempat memberi satu respons melalui gol Al-Tamari. Namun pada akhirnya, perbedaan kualitas, pengalaman, dan ketenangan tetap tampak jelas. Argentina menguasai panggung, sementara Yordania hanya sesekali mampu menyela alur yang dibangun lawan.

Kini perhatian Argentina sepenuhnya mengarah ke Tanjung Verde, tim debutan yang akan menantang mereka di Miami pada 3 Juli. Di atas kertas, sang juara tetap menjadi favorit, tetapi justru itu yang membuat kemenangan atas Yordania terasa penting: bukan semata-mata karena tiga poin yang memang sudah tidak mereka perlukan, melainkan karena cara mereka menjaganya tetap meyakinkan. Messi kembali mencetak gol, Argentina kembali menang, dan sang juara bertahan tiba di babak 32 besar dengan langkah yang terdengar mantap. Di turnamen yang terus bergerak menuju fase yang lebih kejam, mereka telah mengirim pesan yang sederhana tetapi kuat: Argentina belum kehilangan ketajamannya, dan Messi masih menjadi wajah paling menentukan dari laju itu.

HOT NEWS

TRENDING

Khaldoon Ungkap Guardiola Sempat Ingin Mundur Berkali-kali Sebelum Akhirnya Tinggalkan Manchester City

Liverpool Resmi Tunjuk Andoni Iraola, Harapan Baru Setelah Musim yang Mengecewakan

Lima Tahun yang Mengubah Segalanya: Marco Silva Tinggalkan Fulham, Benfica Menanti sang…

James Milner, Pemecah Rekor Liga Premier yang Melewati Segalanya, Resmi Gantung Sepatu…

Haaland Raih Sepatu Emas Ketiga, Tapi Gelar Juara Justru Lepas ke Tangan…

Scroll to Top