Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Watkins Masuk, Villa Menang: Comeback Brilian di Stamford Bridge Mantapkan Rekor 11 Kemenangan Beruntun

 

SKWNEWS Aston Villa kembali menunjukkan ketangguhan mental dan ketajaman taktik saat membalikkan keadaan untuk menang 2-1 atas Chelsea di Stamford Bridge, dipimpin dwigol pemain pengganti Ollie Watkins yang mengubah arah laga hanya dalam hitungan menit. Tertinggal 0-1 pada jeda, tim asuhan Unai Emery menahan badai di babak pertama, lalu mengeksekusi rencana paruh kedua dengan presisi untuk meraih kemenangan tandang yang memperpanjang rentetan hasil positif mereka menjadi 11 kemenangan beruntun di semua kompetisi. Laju sensasional itu menegaskan Villa sebagai kandidat juara, mengokohkan posisi mereka di urutan ketiga klasemen dan hanya tertinggal tiga poin dari pemuncak, Arsenal, jelang lawatan krusial ke London pada Selasa mendatang.

Babak pertama sepenuhnya milik tuan rumah. Chelsea menekan dengan intensitas tinggi, menguasai bola lebih dari 71 persen, dan berkali-kali merangsek ke kotak penalti hingga mengukir 28 sentuhan di area berbahaya—bandingkan dengan Villa yang hanya mencatat tiga. Serangan beruntun tuan rumah akhirnya berbuah pada menit ke-37 ketika sepak pojok sang kapten, Reece James, mengarah ke kotak yang penuh sesak dan mengenai kaki Joao Pedro sebelum melewati garis gawang. Keunggulan 1-0 yang terasa pantas itu bahkan bisa lebih besar jika penyelesaian akhir lebih klinis: James, Enzo Fernandez, Alejandro Garnacho, dan Cole Palmer bergantian melebar atau melambung, sementara Emiliano Martinez dipaksa melakukan penyelamatan penting dari tembakan Palmer dan Joao Pedro.

Villa bertahan dengan disiplin pada periode paling sulit itu, menjaga struktur dan tidak panik meski terus digempur. Ketenangan inilah yang menjadi modal saat Emery melakukan intervensi jelang menit ke-60. Pergantian yang ia lakukan bukan sekadar pergantian tenaga, melainkan pergeseran halus pada struktur untuk melawan penjagaan man-to-man Chelsea dan menciptakan keunggulan jumlah pemain di ruang yang tepat. Dalam beberapa sentuhan bola, wajah pertandingan berubah: sirkulasi lebih bersih, progresi lebih berani, dan transisi terasa menggigit.

Empat menit setelah masuk, Watkins langsung memberi dampak. Memanfaatkan momen serangan balik pada menit ke-63, ia memenangkan duel fisik melawan Trevoh Chalobah, masuk ke ruang tembak, dan menyambar bola muntah setelah upaya pertamanya diblok oleh Robert Sanchez. Gol itu mengempaskan momentum Chelsea sekaligus menyalakan keyakinan Villa bahwa pertandingan bisa diambil alih. Dari situ, energi tim tamu melonjak, garis pertahanan terdorong lebih tinggi, dan tekanan berbalik mengarah ke sisi biru London.

Chelsea berupaya bangkit, tetapi Villa telah menemukan ritmenya. Perpindahan bola antarsayap dan kombinasi cepat di setengah ruang memaksa tuan rumah terus melakukan penyesuaian. Di tengah ketegangan yang meningkat, Villa memanfaatkan bola mati untuk menuntaskan remontada. Menit ke-84, tendangan sudut Youri Tielemans melengkung tajam ke area berbahaya dan Watkins melompat paling tinggi untuk menanduk masuk, mengubah papan skor menjadi 2-1. Sebuah penyelesaian yang mencerminkan naluri predatornya—tajam, tepat waktu, dan menentukan.

“Kemenangan yang luar biasa. Secara pribadi, bagi saya, masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol itu luar biasa,” ujar Watkins selepas laga kepada Sky Sports. Ia juga menyanjung tangan dingin sang pelatih. “Emery mengubah (sistem) karena Chelsea bermain man-to-man. Kami memiliki pemain tambahan di sana. Jenius taktik, menurut saya.” Ucapan itu merangkum pergeseran halus yang sulit ditangkap angka-angka: Villa menjadi lebih nyaman mengatasi pressing, lebih efisien memanfaatkan ruang, dan lebih tenang pada momen akhir.

Hasil ini membuat Aston Villa menyamai rekor klub sepanjang masa dengan 11 kemenangan beruntun—rekor historis yang sebelumnya tercatat pada 1897 dan 1914. Perjalanan musim mereka adalah kisah transformasi yang mencolok: dari tidak menang dalam lima laga pembuka menjadi mesin kemenangan dengan catatan tandang yang heroik. Villa telah berulang kali memenangi partai yang berjalan liar di markas lawan—membalikkan keadaan dari 0-1 menjadi 2-1 di Leeds United, bangkit dari 0-2 untuk menang 4-3 di Brighton & Hove Albion, dan meraih tiga poin 3-2 di West Ham United setelah sempat tertinggal 1-2. Pola yang berulang itu menandakan karakter: tidak menyerah saat tertinggal, tetap tenang saat tertekan, dan mematikan saat kesempatan datang.

Bagi Chelsea, kekalahan ini memperpanjang rentetan kurang meyakinkan: hanya satu kemenangan dalam enam pertandingan Liga Primer. Padahal, performa babak pertama menunjukkan potensi yang menjanjikan—struktur agresif, penguasaan area, dan volume peluang. Namun kerapuhan pada momen-momen krusial serta kegagalan memanfaatkan dominasi menjadi bumerang. Mereka kini tertinggal 10 poin dari Villa yang nyaman di lima besar, tantangan yang mengharuskan respons cepat jika tak ingin tercecer dari persaingan papan atas.

Secara taktis, pertandingan ini menjadi studi kasus tentang pentingnya manajemen momentum. Chelsea yang dominan pada 45 menit awal tak mampu menutup laga saat peluang datang, sementara Villa yang pendarahannya dihentikan oleh penyelamatan-penyelamatan Martinez dan kedisiplinan blok bertahan, menandai momen berbalik melalui pergantian yang tepat dan eksekusi menyerang yang efisien. Dua sentuhan akhir berkelas Watkins, satu dari transisi cepat dan satu dari bola mati, sudah lebih dari cukup untuk mengubah narasi.

Aston Villa akan kembali ke London pada Selasa untuk duel besar melawan pemuncak klasemen Arsenal, kesempatan langsung untuk menekan jarak pada puncak dan menguji sejauh mana laju 11 kemenangan beruntun ini bisa bertransformasi menjadi dorongan nyata dalam perburuan gelar. Dengan moral setinggi langit dan mesin gol yang kembali berdentum, Villa melangkah dengan keyakinan, sementara Chelsea dibiarkan merenungi bagaimana keunggulan yang tampak meyakinkan bisa buyar di hadapan tim yang tak pernah berhenti percaya.

HOT NEWS

TRENDING

Panggung Penebusan di Camp Nou: Barcelona Libas Levante 3-0, Tahta La Liga…

Mac Allister Selamatkan Liverpool, Forest Kian Terhimpit di Tepi Zona Degradasi

FIFA Siapkan ‘Hukum Prestianni’: Aturan Anti-Rasisme yang Melarang Pemain Menutupi Mulut Saat…

Brace Patrik Schick Bungkam Piraeus: Leverkusen Curi Kemenangan Bersejarah 2-0 atas Olympiacos

Laga Playoff Liga Champions : Laga Penuh Drama, Atletico Dipaksa Bermain Imbang…

Scroll to Top