Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Sang Penjelajah Tua Kembali Bertugas: Carlos Queiroz dan Misi Mustahil Membawa Ghana Bersinar di Piala Dunia 2026

 

SKWNEWS – Ketika nama Carlos Queiroz kembali muncul di lembar kabar olahraga dunia, ada semacam rasa familiar yang menyertai berita itu — perasaan bahwa lelaki berusia 73 tahun ini memang tak pernah benar-benar pergi dari panggung sepak bola internasional. Ia hanya berpindah, dari satu benua ke benua lain, dari satu tim nasional ke tim nasional berikutnya, membawa serta pengalaman yang terakumulasi selama hampir setengah abad mengelilingi dunia lewat jalur kepelatihan. Dan kini, Asosiasi Sepak Bola Ghana resmi mengumumkan bahwa pelatih veteran asal Portugal itu akan memimpin Black Stars di Piala Dunia 2026 — sebuah penunjukan yang datang di tengah situasi yang serba mendesak, penuh tekanan, dan tidak memberi banyak waktu untuk bernapas.

Pengumuman itu dikeluarkan oleh federasi sepak bola Ghana dengan nada yang lugas namun penuh urgensi. “Pelatih Queiroz akan segera memulai pekerjaannya untuk mempersiapkan Black Stars menghadapi turnamen yang akan dimulai pada 11 Juni,” demikian pernyataan resmi federasi. Tidak ada kata-kata ceremonial yang berlebihan, tidak ada sambutan panjang penuh kiasan — hanya fakta, dan fakta itu sudah cukup berbicara. Ghana mendapatkan seorang pelatih berpengalaman dengan catatan rekam jejak internasional yang sulit ditandingi siapapun, tetapi juga mendapatkannya di tengah persiapan yang sudah sangat mepet waktunya.

Kepergian Otto Addo dari kursi kepelatihan Ghana terjadi secara tiba-tiba dan berasa pahit. Pelatih berkebangsaan Jerman-Ghana itu dipecat hanya beberapa jam setelah Ghana menelan kekalahan 2-1 dari Jerman dalam sebuah laga persahabatan — hasil yang rupanya menjadi titik akhir dari kesabaran federasi. Pemecatan itu dilakukan dua minggu sebelum Queiroz resmi diperkenalkan, dan selama dua minggu itulah federasi bergerak cepat, mencari nama yang tepat untuk mengisi kekosongan yang harus segera diisi. Pilihan mereka jatuh kepada Queiroz, dan keputusan itu mengandung logika tersendiri: ketika waktu sangat terbatas dan tekanan sangat besar, Anda membutuhkan seseorang yang sudah pernah berada di posisi serupa berkali-kali sebelumnya.

Dan Queiroz memang sudah pernah berada di posisi itu — berkali-kali. Karier kepelatihannya adalah sebuah atlas geografis yang luar biasa. Ia pernah menangani tim nasional Portugal, membawa mereka ke Piala Dunia 2010 dan lolos melewati babak grup dengan terhormat. Ia pernah melatih Iran tidak hanya sekali, tetapi dua kali — memandu Persia ke Piala Dunia 2018 dan 2022, dua turnamen berturut-turut di mana ia berhasil membawa tim yang sering dipandang sebelah mata tampil kompetitif di level tertinggi sepak bola dunia. Di antara penugasan-penugasan besar itu, ia mampir ke Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, Kolombia, Mesir, Qatar, dan Oman. Setiap penugasan membawa ceritanya sendiri, setiap tim nasional membawa tantangan tersendiri, namun Queiroz selalu datang dengan ketenangan seorang penjelajah yang sudah terlalu sering melihat badai untuk takut hujan.

Sebelum karier internasionalnya yang panjang ini, Queiroz sudah menorehkan nama di tingkat klub dengan cara yang tidak bisa diabaikan. Ia pernah menangani Real Madrid, salah satu klub terbesar di planet ini — sebuah pengalaman yang sudah cukup untuk mengukur tekanan dan ekspektasi pada level tertinggi. Namun yang mungkin paling mendefinisikan kariernya secara keseluruhan adalah hubungannya dengan Manchester United dan Sir Alex Ferguson. Queiroz menjabat sebagai asisten Ferguson tidak hanya sekali, tetapi dua kali — sebuah kepercayaan yang tidak diberikan Ferguson kepada sembarang orang. Dari ruang ganti Old Trafford, ia menyerap filosofi kepelatihan yang kelak ia bawa ke berbagai penjuru dunia.

Ghana, yang sudah mengonfirmasi keikutsertaan di Piala Dunia 2026, kini berada di Grup L — sebuah grup yang tidak akan memberikan kemudahan bagi siapapun. Black Stars akan berhadapan dengan Inggris, Kroasia, dan Panama di fase grup, yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama. Inggris datang sebagai kekuatan besar Eropa yang selalu punya ambisi besar di setiap turnamen. Kroasia adalah tim yang sudah membuktikan diri sebagai tim petarung sejati — juara ketiga Piala Dunia 2018 dan finalis 2022, mereka adalah spesialis turnamen yang tidak boleh diremehkan barang sedetik pun. Panama, meskipun tergolong tim yang lebih mudah diprediksi di atas kertas, tetap merupakan lawan yang harus dihadapi dengan serius dan tidak boleh dianggap remeh dalam format Piala Dunia yang tidak mengenal belas kasihan.

Artinya, Queiroz tidak akan punya banyak waktu untuk bermimpi atau merancang strategi jangka panjang. Tugasnya adalah mengenal skuad yang ada, memahami kekuatan dan kelemahan para pemain dalam waktu yang sangat singkat, lalu menyusun pendekatan taktis yang realistis namun tetap punya ambisi. Bagi sebagian pelatih, kondisi seperti ini akan terasa seperti berlari di atas pasir yang bergerak. Bagi Queiroz, ini bukan kali pertama ia harus berlari dalam kondisi seperti itu.

Federasi Ghana tidak mengumumkan durasi kontrak Queiroz setelah turnamen ini berakhir — sebuah detail yang menarik dan sekaligus membuka berbagai kemungkinan. Mungkin ada niat untuk menjaga fleksibilitas. Mungkin prioritas saat ini memang hanya satu: selamat melewati Piala Dunia dengan dignitas, kalau bisa lebih dari itu. Tapi dalam sepak bola, rencana jangka pendek kadang melahirkan dampak jangka panjang yang tidak terduga — dan Queiroz adalah jenis pelatih yang paham betul bagaimana mengubah misi terbatas menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna.

Di usianya yang ke-73, Carlos Queiroz bisa saja memilih untuk menikmati pensiun yang tenang di suatu sudut Lisbon, mengenang karier yang sudah lebih dari cukup untuk membuktikan dirinya sebagai salah satu pelatih paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola internasional. Ia tidak melakukan itu. Ia justru memilih untuk terbang ke Afrika Barat, mengambil alih tim yang baru saja dipecat pelatihnya, dan memulai persiapan untuk Piala Dunia keempatnya dalam kapasitas pelatih kepala — turnamen paling bergengsi di muka bumi.

Piala Dunia 2026 akan menjadi testament terakhir dari seorang penjelajah yang tidak pernah berhenti bergerak. Dan bagi Ghana, mungkin inilah taruhan terbesar mereka — bahwa pengalaman, kebijaksanaan, dan ketangguhan seorang Queiroz bisa mengubah garis nasib Black Stars di panggung dunia yang paling terang.

HOT NEWS

TRENDING

Sembilan Poin yang Tiba-tiba Terasa Rapuh: Arsenal Tersandung, dan City Pun Mulai…

PSG Hancurkan Liverpool dan Raih Keunggulan Besar Menuju Anfield

Havertz dan Raya Jadi Pahlawan: Arsenal Curi Kemenangan Dramatis di Lisbon demi…

Loyalitas Baja di Old Trafford: Harry Maguire Perpanjang Kontrak, Tegaskan Keyakinannya pada…

Aaron Ramsey Resmi Gantung Sepatu, Menutup Karier Penuh Kenangan dan Kebanggaan

Scroll to Top