Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Ceferin Batal Mundur, Bidik Periode Terakhir di UEFA saat Desakan Perubahan FIFA Menguat

 

Skwnews – Presiden UEFA Aleksander Ceferin membatalkan keputusan sebelumnya untuk mundur dan menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai pemimpin badan sepak bola Eropa tersebut. Ia menyebut pencalonan berikutnya sebagai upaya meraih masa jabatan terakhir, di tengah menguatnya desakan dari sebagian besar asosiasi nasional anggota UEFA agar FIFA melakukan perubahan kelembagaan dan kepemimpinan.

Ceferin menyampaikan keputusan itu kepada para presiden dan sekretaris jenderal dari 55 asosiasi nasional anggota UEFA dalam pertemuan di Berlin pada Kamis. Pengumuman tersebut mengubah rencana yang sebelumnya ia sampaikan, yakni meninggalkan jabatan ketika masa kepemimpinannya saat ini berakhir. Kini, pria asal Slovenia itu memilih untuk kembali mengikuti pemilihan dengan alasan masih ada pekerjaan penting yang perlu diselesaikan.

Pencalonannya akan diajukan dalam Kongres Biasa UEFA ke-51 yang dijadwalkan berlangsung di Astana, Kazakhstan, pada 22 April. Dengan keputusan tersebut, Ceferin mengarahkan langkah berikutnya pada kelanjutan kepemimpinan di sepak bola Eropa, bukan pada persaingan untuk memperebutkan kursi presiden FIFA.

Nama Ceferin sebelumnya termasuk figur terkemuka yang dikaitkan dengan kemungkinan menjadi penantang Gianni Infantino. Namun, pada Agustus ia sudah menyatakan tidak akan maju melawan presiden FIFA tersebut. Penegasan mengenai niatnya kembali mencalonkan diri di UEFA semakin memperjelas pilihan itu, sekaligus menyingkirkan salah satu nama besar dari pembicaraan mengenai kandidat potensial dalam pemilihan FIFA pada Maret mendatang.

Dalam penjelasannya, Ceferin menekankan bahwa keputusan untuk kembali maju berkaitan dengan kepercayaan yang diberikan asosiasi-asosiasi nasional. Ia juga menyoroti tantangan yang telah dihadapi UEFA selama beberapa tahun terakhir dan pentingnya melanjutkan pekerjaan secara bersama-sama.

“Saya ingin berterima kasih kepada asosiasi-asosiasi nasional atas kepercayaan mereka,” ujar Ceferin. “Kami telah menghadapi tantangan luar biasa selama beberapa tahun terakhir, dan kami menghadapinya sebagai satu tim. Masih ada pekerjaan penting yang menanti, dan oleh karena itu saya menerima permintaan mereka untuk mencalonkan diri kembali.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Ceferin menempatkan dukungan anggota sebagai alasan utama di balik perubahan keputusannya. Meski telah menyampaikan kesediaan untuk kembali maju, pengumuman tersebut merupakan pernyataan pencalonan, bukan hasil pemilihan. Kepastian mengenai kelanjutan masa jabatannya tetap akan ditentukan melalui agenda kongres UEFA.

Keputusan Ceferin muncul ketika hubungan antara sejumlah asosiasi sepak bola Eropa dan kepemimpinan FIFA sedang menjadi sorotan. Pada Kamis, UEFA menyatakan bahwa 54 dari 55 asosiasi nasional anggotanya, dengan Azerbaijan sebagai pengecualian, mendukung usulan reformasi FIFA. Dukungan yang luas tersebut memperlihatkan bahwa tuntutan perubahan tidak hanya datang dari satu atau dua anggota, melainkan dari hampir seluruh asosiasi dalam konfederasi Eropa.

Menurut pernyataan UEFA, asosiasi-asosiasi tersebut tidak sekadar menginginkan pembaruan dalam struktur organisasi. Mereka juga mempertanyakan kepemimpinan FIFA saat ini dan menilai bahwa perubahan kelembagaan saja belum cukup untuk menjawab persoalan yang mereka soroti.

“Asosiasi-asosiasi nasional menegaskan kembali bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA saat ini,” ungkap UEFA. “Reformasi kelembagaan saja tidaklah cukup.”

UEFA kemudian menjabarkan karakter pemimpin yang dinilai dibutuhkan FIFA. Organisasi itu menyebut perlunya sosok yang dihormati, mampu mempersatukan, memiliki akar kuat dalam dunia sepak bola, serta mempunyai visi dan pengalaman untuk memimpin. Kemampuan memperoleh kepercayaan lintas wilayah juga menjadi bagian dari kriteria yang disampaikan.

“FIFA juga membutuhkan kepemimpinan baru: sosok yang dihormati dan mampu mempersatukan, memiliki akar kuat dalam dunia sepak bola, serta memiliki visi dan pengalaman untuk memimpin, kemampuan untuk meraih kepercayaan lintas wilayah, dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap pengembangan, reformasi, integritas, serta independensi,” demikian pernyataan UEFA.

Walaupun desakan perubahan tersebut disampaikan secara tegas, keputusan Ceferin menunjukkan bahwa ia tidak akan mengambil peran sebagai penantang Infantino dalam pemilihan mendatang. Dengan demikian, sikap UEFA terhadap kebutuhan reformasi FIFA dan pilihan pribadi Ceferin mengenai pencalonannya merupakan dua hal yang berbeda. Dukungan terhadap perubahan di tingkat dunia tidak berarti presiden UEFA akan ikut memperebutkan jabatan tertinggi FIFA.

Sementara itu, mantan bek tim nasional Swiss, Ramon Vega, telah menyatakan niat untuk maju melawan Infantino. Pengumuman yang disampaikan pada Rabu itu menjadikannya orang pertama yang secara terbuka menyatakan keinginan mengikuti pemilihan presiden FIFA tahun depan. Masa pendaftaran pencalonan masih terbuka hingga 18 November, sehingga komposisi kandidat belum dapat dianggap final.

Penolakan terhadap Infantino meningkat sejak upayanya pada Juli untuk melibatkan investor swasta dalam entitas komersial baru FIFA tidak berhasil. Entitas yang diusulkan itu akan memegang hak terkait berbagai kompetisi, termasuk Piala Dunia. Rencana tersebut menjadi salah satu latar penting bagi menguatnya perdebatan mengenai arah pengelolaan dan proses pengambilan keputusan di badan sepak bola dunia.

Menanggapi situasi itu, Infantino telah mengusulkan peninjauan independen terhadap proses pengambilan keputusan FIFA. Ia juga berencana mengusulkan konsultasi dengan berbagai konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan lainnya. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat mekanisme pengambilan keputusan dalam organisasi.

Usulan peninjauan dan konsultasi itu berjalan beriringan dengan tuntutan anggota UEFA yang menghendaki perubahan lebih jauh, termasuk pada aspek kepemimpinan. Perbedaan penekanan tersebut menjadi bagian penting dari dinamika menjelang pemilihan FIFA: di satu sisi terdapat rencana memperbaiki mekanisme organisasi, sementara di sisi lain muncul seruan agar pembaruan disertai hadirnya pemimpin baru.

Di tengah perkembangan tersebut, Ceferin telah memperjelas arah langkahnya. Ia memilih kembali maju di UEFA untuk masa jabatan yang disebutnya sebagai periode terakhir, sembari menghadapi agenda penting sepak bola Eropa. Adapun persaingan menuju kursi presiden FIFA masih menunggu perkembangan pencalonan sebelum tenggat pendaftaran, dengan Vega telah menyatakan niat maju dan Infantino menghadapi desakan perubahan yang semakin terbuka.

HOT NEWS

TRENDING

Haaland dan Maresca Kompak Serukan Persatuan

Solanke Selamatkan Spurs di Old Trafford, Man United Gagal Menang Meski Unggul…

Manchester City Tegaskan Keyakinan Hadapi Tuduhan Keuangan yang Mengguncang

Lima Gol, Delapan Drama: Manchester City Rebut Puncak Liga Usai Menundukkan Sunderland

Villa Menang 3-2, Tottenham Kian Terbenam Meski Bangkit Terlambat

Scroll to Top