Skwnews Skwslot Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Sorak Isidor Usai Kemenangan Haiti Memicu Ketegangan Baru di Hispaniola

Skwnews – Kemenangan Haiti 4-1 atas Republik Dominika di Santo Domingo memunculkan dampak yang jauh melampaui lapangan sepak bola. Seusai pertandingan, pemain bintang Haiti, Wilson Isidor, melontarkan seruan, “L’Hispaniola c’est Haiti! Ini adalah Haiti!” Kalimat singkat itu dengan cepat memicu kembali perdebatan tentang sejarah, identitas, migrasi, serta hubungan politik dan ekonomi yang telah lama rumit antara dua negara yang berbagi Pulau Hispaniola.

Hispaniola merupakan pulau di Karibia yang terbagi antara Haiti dan Republik Dominika. Kedua negara bertetangga itu memiliki sejarah panjang yang diwarnai konflik dan ketegangan, sehingga komentar Isidor segera mendapat perhatian luas. Pernyataan tersebut menjadi viral di media sosial, memicu perdebatan sengit mengenai sejarah pulau itu dan mengundang berbagai reaksi dari kedua sisi perbatasan.

Reaksi dari otoritas Republik Dominika datang tidak lama kemudian. Menteri Olahraga Dominika, Kelvin Cruz, pada Jumat menyatakan bahwa Haiti tidak lagi diizinkan untuk bermain di Republik Dominika. Ketika dimintai penjelasan lebih lanjut pada Senin, Cruz mengatakan bahwa ia tetap berpegang pada pengumuman tersebut.

Cruz tidak menyebut nama Isidor atau mengaitkan keputusan itu secara langsung dengan komentar sang pemain. Namun, ia menuduh pendukung Haiti telah merusak infrastruktur stadion. Insiden di sekitar pertandingan juga memperbesar perhatian publik. Pihak berwenang Dominika disebut menggunakan semprotan merica terhadap warga Haiti yang memasuki stadion secara damai, sementara sebagian warga Dominika justru menyalahkan pemerintah mereka karena dianggap tidak mampu mengendalikan massa.

Federasi Sepak Bola Dominika kemudian mengajukan keluhan resmi kepada CONCACAF terkait peristiwa yang terjadi dalam pertandingan tersebut. CONCACAF mengonfirmasi bahwa kasus disipliner telah dibuka untuk meninjau insiden pada laga tersebut dan akan ditangani berdasarkan peraturan serta prosedur disipliner yang berlaku.

Ketegangan yang mengikuti pertandingan ini terjadi pada waktu yang sangat sensitif. Laga tersebut digelar sehari sebelum peringatan ke-89 Pembantaian Parsley, ketika diktator Dominika Rafael Trujillo memerintahkan pembunuhan ribuan warga Haiti di sepanjang perbatasan pada 1937. Dalam pertandingan pada Kamis, seorang pendukung bahkan membentangkan poster dalam bahasa Kreol Haiti yang memberi penghormatan kepada mereka yang gugur pada 2 Oktober 1937 dan menyatakan bahwa pertandingan itu dimainkan untuk mengenang mereka.

Komentar Isidor kemudian menjadi pusat dari perdebatan yang lebih luas. Sejumlah pengguna media sosial memperdebatkan makna historis dari ucapannya, sementara sebagian lainnya melontarkan komentar bernada permusuhan terhadap warga Haiti. Sebuah video yang diunggah dengan keterangan “4-1” juga memperlihatkan perbedaan mencolok antara kawasan mewah di Republik Dominika dan wilayah miskin di Haiti yang berdekatan.

Federasi Sepak Bola Haiti memberikan dukungan kepada para pemainnya dan membela komentar Isidor. Dalam pernyataannya, federasi menegaskan bahwa ucapan tersebut merupakan bentuk keterikatan pemain terhadap akar budayanya, bukan serangan terhadap negara atau masyarakat lain.

“Rasa keterikatan terhadap Haiti ini tidak bisa ditafsirkan sebagai tanda permusuhan atau sikap tidak hormat terhadap bangsa atau masyarakat lain,” demikian pernyataan federasi Haiti. Federasi juga menekankan bahwa persaingan olahraga, sekeras apa pun, tidak seharusnya menghilangkan rasa saling menghormati yang seharusnya menyatukan pemain, penggemar, dan bangsa.

Sejumlah pihak di media sosial juga berpendapat bahwa pernyataan Isidor dapat dipahami sebagai ungkapan kebanggaan. Salah satu pengguna X membandingkannya dengan yel-yel “Ici c’est Paris” yang kerap diteriakkan pendukung Paris Saint-Germain, termasuk saat pertandingan tandang. Menurut pandangan tersebut, seruan seperti itu tidak selalu dapat dimaknai sebagai klaim wilayah secara harfiah.

Garry Jean-Pierre, yang menyaksikan pertandingan dari rumahnya di Port-au-Prince, tidak menilai ucapan Isidor sebagai pernyataan politis. Meski demikian, ia mengaku tidak terkejut dengan respons dari pemerintah Republik Dominika. Menurutnya, kekalahan 4-1 di kandang sendiri di hadapan para pendukung membuat reaksi yang muncul menjadi lebih keras.

Di tengah persiapan Republik Dominika menuju pemilihan umum 2028, insiden ini juga memasuki ruang politik. Sejumlah calon presiden disebut memanfaatkan isu tersebut untuk menjanjikan kebijakan yang lebih keras terhadap migran Haiti. Kondisi itu memperlihatkan bagaimana sebuah pertandingan sepak bola dapat dengan cepat terseret ke dalam persoalan sosial dan politik yang jauh lebih besar.

Di atas lapangan, hasil pertandingan membuat Haiti dan Republik Dominika sama-sama mengoleksi sembilan poin di Liga A CONCACAF Nations League. Namun, Haiti berhasil melaju ke perempat final berkat selisih gol yang lebih baik. Keberhasilan itu menjadi pencapaian penting bagi Haiti, tetapi juga memperbesar sorotan terhadap situasi setelah pertandingan.

André Joseph, mahasiswa akuntansi berusia 20 tahun di Port-au-Prince, mengatakan bahwa ia sudah memperkirakan adanya dampak negatif setelah laga tersebut. Menurutnya, ketegangan antara masyarakat Haiti dan Republik Dominika akan terus ada selama perlakuan terhadap warga Haiti masih menjadi persoalan yang diperdebatkan.

Republik Dominika telah lama mendapat kritik terkait penangkapan dan deportasi orang-orang kelahiran negara tersebut yang memiliki keturunan Haiti, serta perlakuan terhadap imigran dalam tahanan. Pejabat Dominika menyatakan bahwa negara mereka tidak lagi mampu menampung jumlah imigran yang meningkat akibat kemiskinan dan kekerasan di Haiti.

Di sisi lain, persoalan infrastruktur sepak bola Haiti juga menjadi perhatian. Stadion utama di Port-au-Prince dan fasilitas latihan di sekitarnya disebut telah dikuasai kelompok geng yang mengendalikan sekitar 70 persen wilayah ibu kota. Situasi tersebut membuat pertandingan kandang Haiti dalam kualifikasi Piala Dunia harus dimainkan di tempat lain, meski tim itu berhasil lolos kualifikasi untuk pertama kali sejak 1974.

Kemenangan Haiti atas Republik Dominika pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar skor 4-1. Seruan Isidor setelah laga, respons otoritas, keluhan disipliner, serta reaksi publik menunjukkan betapa rapuhnya hubungan kedua negara dalam konteks sejarah yang panjang. Federasi Haiti telah meminta agar persaingan olahraga tidak menghapus rasa hormat, tetapi pertandingan di Santo Domingo memperlihatkan bahwa di Hispaniola, sepak bola masih dapat membuka kembali luka dan ketegangan yang belum sepenuhnya reda.

HOT NEWS

TRENDING

Haaland dan Maresca Kompak Serukan Persatuan

Solanke Selamatkan Spurs di Old Trafford, Man United Gagal Menang Meski Unggul…

Manchester City Tegaskan Keyakinan Hadapi Tuduhan Keuangan yang Mengguncang

Lima Gol, Delapan Drama: Manchester City Rebut Puncak Liga Usai Menundukkan Sunderland

Villa Menang 3-2, Tottenham Kian Terbenam Meski Bangkit Terlambat

Scroll to Top